Sering Diabaikan, Ini Alasan 'Lelah Mental' Pascaputus Cinta Lebih Menyiksa ketimbang Rasa Sedih

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 09:09 WIB
ilustrasi putus cinta
ilustrasi putus cinta

 
PROKAL.CO– Momen perpisahan dalam sebuah hubungan asmara kerap kali diidentikkan dengan rasa sedih dan patah hati. Namun, ada satu dampak psikologis yang jarang dibicarakan secara terbuka, yakni kelelahan mental (mental exhaustion) akibat perang batin yang terus-menerus terjadi di dalam pikiran pascaputus cinta.

Berdasarkan analisis para pakar psikologi, bagian paling melelahkan dari sebuah perpisahan bukanlah detik-detik saat hubungan itu berakhir, melainkan proses ketika seseorang berusaha keras untuk melupakan, sementara di saat yang sama ada dorongan kuat untuk tetap berkomunikasi dan berada di dekat mantan pasangan.

Konflik Internal yang Memaksa Otak Bekerja Tanpa Henti

Kelelahan mental ini bersumber dari pertentangan konstan antara logika dan perasaan. Di satu sisi, logika dengan tegas menyuruh untuk melepas dan menyudahi hubungan. Namun di sisi lain, perasaan terus mencari alasan untuk mengirim pesan, mengecek media sosial, atau berharap sosok tersebut kembali hadir.

Akibat tarik-ulur emosional ini, otak berada dalam kondisi siaga dan tidak pernah benar-benar beristirahat. Kondisi ini sangat berbeda dengan rasa sedih biasa. Jika rasa sedih terasa berat namun pasif, konflik internal ini justru sangat menguras energi karena menarik kesadaran seseorang ke dua arah yang saling berlawanan secara bersamaan.

Beberapa perilaku yang kerap muncul akibat ketidakstabilan emosional ini antara lain:

Inkonsistensi Tindakan: Sudah berkomitmen untuk memutus kontak (no contact), namun masih sering impulsif mengirim pesan.

Mencari Kabar Sembunyi-sembunyi: Merasa sudah move on, tetapi masih aktif mencari tahu informasi terbaru dan mengenang momen-momen indah bersamanya.

Lelah pada Diri Sendiri: Muncul rasa frustrasi dan kelelahan akibat ketidakmampuan untuk konsisten pada keputusan sendiri.

Langkah Sederhana Meredakan Lelah Mental Pascaputus

Menghadapi fase transisi ini memerlukan pemahaman dan perlakuan yang lembut terhadap diri sendiri. Para ahli menyarankan beberapa langkah awal untuk meredakan beban mental tersebut:

Akui Dualitas Perasaan: Terima dan akui bahwa dua keinginan yang bertolak belakang tersebut memang sedang hadir bersamaan di dalam diri.

Jangan Memaksa Diri: Hentikan tekanan untuk "harus langsung lupa" secara instan. Proses penyembuhan emosional membutuhkan waktu.

Batasi Akses (Reduce Triggers): Kurangi akses komunikasi dan interaksi di media sosial agar otak tidak terus-menerus terpicu oleh ingatan masa lalu.

Fokus pada Hal yang Bisa Dikontrol: Alihkan fokus dan energi pada aktivitas kecil yang dapat dikendalikan hari ini.

Hati dan Logika yang Belum Sejalan

Merasa masih memiliki keinginan untuk berhubungan dengan masa lalu tidak serta-merta menandakan seseorang lemah atau gagal dalam proses move on. Kondisi ini adalah proses alami manusia ketika hati dan logika belum berada di frekuensi yang sama.

"Kamu tidak lemah karena masih memiliki keinginan untuk terhubung. Kamu hanya sedang berada di sebuah fase transisi di mana logika dan hatimu butuh waktu untuk berjalan berdampingan." (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
putus cinta