PROKAL.CO— Lahir sebagai seorang budak, hidup dengan keterbatasan fisik, dan tanpa memiliki harta benda tidak menghalangi Epictetus untuk menjadi salah satu filsuf terbesar dalam sejarah. Ia bahkan menjadi sosok guru yang pemikirannya dipelajari dan dihormati oleh Kaisar Romawi, Marcus Aurelius.
Epictetus sendiri tidak pernah menulis buku. Ajarannya dituturkan secara lisan dan dicatat oleh muridnya hingga melahirkan karya bertajuk Enchiridion (Buku Panduan). Di dalamnya terkandung sistem pemikiran stoikisme untuk mengatasi ketakutan, kemarahan, serta pikiran riuh yang tak henti-hentinya.
7 Frasa Epictetus untuk Pikiran yang Tenang
Berikut adalah penjelasan dan penerapan prinsip psikologis dari 7 frasa utama Epictetus yang efektif meredakan kecemasan:
1. "Beberapa Hal Bergantung pada Kita dan yang Lain Tidak"
Yang berada dalam kendali diri mencakup pendapat, keinginan, dan tindakan pribadi. Sementara hal yang tidak berada dalam kendali mencakup tubuh, ketenaran, harta benda, hingga perlakuan orang lain. Hampir seluruh kecemasan manusia bersumber dari kekeliruan membedakan kedua hal tersebut dan mencoba mengontrol hal-hal yang di luar kendalinya.
2. "Bukan Hal-Hal Itu yang Mengganggu Kita, Melainkan Opini Kita tentang Hal Tersebut"
Bukan kemacetan lalu lintas, kritik, atau kegagalan yang secara langsung memicu penderitaan emosional, melainkan penilaian mental terhadap peristiwa itu ("ini mengerikan", "saya tidak tahan"). Ketika sudut pandang dan penilaian tersebut diubah, sebagian besar penderitaan emosional akan lenyap.
3. "Ketika Melihat Seseorang Cemas, Tanyakan: Apa yang Dia Inginkan yang Tidak Berada di Tangannya?"
Kecemasan selalu menyingkapkan adanya keinginan kuat terhadap faktor eksternal, seperti persetujuan orang lain, hasil akhir, atau kepastian masa depan. Dengan melepaskan keterikatan pada hal-hal eksternal tersebut, kecemasan akan kehabisan bahan bakar untuk tumbuh.
4. "Jangan Meminta Agar Segala Sesuatu Terjadi Sesuai Keinginanmu; Inginkan Agar Terjadi Sebagaimana Adanya"
Menerima kenyataan secara utuh (radikal acceptance) menghentikan pertarungan batin yang memicu stres kronis. Ini bukanlah bentuk kepasrahan atau menyerah, melainkan tindakan cerdas untuk berhenti berdebat dengan peristiwa yang sudah terjadi.
5. "Bukan Kematian atau Rasa Sakit yang Harus Ditakuti, Melainkan Ketakutan terhadap Kematian atau Rasa Sakit Itu Sendiri"
Masalah utama sering kali bukanlah peristiwa itu sendiri, melainkan antisipasi ketakutan berlebihan yang diproyeksikan oleh imajinasi ke masa depan. Sebagian besar hal yang ditakuti manusia hanyalah bayangan pikiran yang belum tentu terjadi.
6. Katakan: Inilah Harga untuk Ketenanganku"
Setiap gangguan kecil sehari-hari adalah sarana latihan murah untuk membentuk ketahanan mental. Dengan membiasakan diri tidak terpancing oleh masalah-masalah kecil, seseorang sedang melatih "otot mental" agar tetap tenang saat menghadapi krisis besar di kemudian hari.
7. "Jika Ingin Maju, Terimalah untuk Terlihat Bodoh di Mata Orang Lain"
Kecemasan sosial umumnya bersumber dari ketakutan akan penilaian dan persepsi publik. Ketika seseorang lebih memprioritaskan kedamaian batin di atas citra diri, ia meraih kebebasan mental yang sejati. "Kecemasan akan hilang ketika Anda berhenti menggenggam hal-hal yang tidak dapat Anda kendalikan, dan mulai menerima kenyataan sebagaimana adanya."(*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co