PROKAL.CO- Perilaku anak yang sering meminta digendong lalu minta turun secara berulang kali di tempat umum—seperti pusat perbelanjaan—sering kali dianggap sebagai bentuk sikap manja. Namun, dari sudut pandang psikologi perkembangan dan neurologi, fenomena tersebut bukanlah tanda kemanjaan, melainkan siklus biologis alami yang dikenal sebagai Secure Base Behavior (Perilaku Pangkalan Aman).
Konsep yang dicetuskan oleh psikolog perkembangan John Bowlby ini menjelaskan bahwa anak menggunakan pengasuh utamanya (ayah atau ibu) sebagai pangkalan aman untuk mengeksplorasi lingkungan. Analoginya mirip dengan pesawat tempur yang memerlukan kapal induk untuk mengisi ulang bahan bakar sebelum kembali terbang.
Mekanisme Neurologis saat Anak Minta Gendong
Ketika anak turun dari gendongan, otaknya berada dalam mode eksplorasi. Berbagai stimulus visual, suara, dan interaksi di sekitarnya diserap oleh otak anak. Namun, pada titik tertentu, stimulasi tersebut dapat menjadi berlebihan (overwhelming) dan memicu kenaikan hormon stres (kortisol).
-
Munculnya Sinyal Bahaya: Suara bising atau lingkungan asing memicu sistem saraf anak mengirimkan sinyal cemas.
-
Proses Co-Regulation: Anak meminta digendong untuk meredakan kecemasan tersebut. Melalui kontak fisik, detak jantung orang tua yang stabil membantu melambatkan detak jantung anak (fenomena entrainment).
-
Pelepasan Oksitosin: Kehangatan tubuh orang tua memicu lonjakan hormon oksitosin yang menekan kadar kortisol, sehingga menurunkan tingkat stres anak dalam waktu singkat.
Dampak Respon Orang Tua terhadap Kemandirian Anak
Penelitian dari Mary Ainsworth melalui Strange Situation Experiment menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan pangkalan aman secara konsisten justru membentuk anak menjadi pribadi yang lebih mandiri dan percaya diri.
-
Pengasuhan Konsisten: Memberikan rasa aman saat anak membutuhkan akan membentuk pola pikir bahwa terdapat "tali pengaman" yang siap menopang, sehingga anak lebih berani mengambil risiko dan mengeksplorasi hal baru.
-
Penolakan Pengasuhan: Menolak memberikan kontak fisik saat anak merasa cemas berisiko memicu toxic stress. Menurut Harvard Center on the Developing Child, kadar kortisol tinggi yang berlangsung lama tanpa regulasi emosi dapat memengaruhi perkembangan hipokampus dan amigdala anak.
Fase Perkembangan Perilaku Minta Gendong
Perilaku naik-turun gendongan memiliki tahapan alami sesuai usia perkembangan anak:
-
Usia 8–10 Bulan: Muncul stranger anxiety (kecemasan terhadap orang asing), intensitas permintaan gendong meningkat.
-
Usia 12–18 Bulan: Puncak secure base behavior, anak sangat sering meminta naik dan turun gendongan seiring meningkatnya kemampuan berjalan.
-
Usia 2–3 Tahun: Perilaku masih sering muncul, terutama saat anak berada di lingkungan baru atau situasi ramai.
-
Usia 3–4 Tahun: Intensitas berkurang secara alami seiring dengan makin besarnya kapasitas regulasi emosi mandiri pada anak.
Riset dari Ruth Feldman (Bar-Ilan University, 2012) juga menambahkan bahwa kontak fisik antara ayah dan anak dapat meningkatkan kadar oksitosin pada kedua belah pihak. Oleh karena itu, merespons kebutuhan anak saat meminta digendong bukan sekadar membantu anak mengelola emosi, melainkan sebuah investasi biologis yang memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co