PROKAL.CO- Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa Anda tertarik pada tipe orang tertentu? Psikiater legendaris asal Swiss, Carl Jung, menegaskan bahwa rasa tertarik kepada seseorang tidak pernah terjadi secara kebetulan. Ketika seseorang jatuh cinta, cermin psikologis dalam dirinya sebenarnya sedang bekerja secara tidak sadar.
Menurut teori psikologi analitis Jung, manusia secara alami tertarik pada sosok yang mampu memunculkan bagian dari diri mereka sendiri—terutama bagian yang selama ini ditekan, dihindari, atau justru dibutuhkan untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih utuh.
Jung menamakan elemen psikologis dalam diri pria ini sebagai "Anima", yaitu gambaran atau citra feminin tidak sadar yang dibawa oleh setiap pria. Sederhananya, cara seseorang jatuh cinta sangat bergantung pada sejauh mana anima dalam dirinya telah berkembang.
Empat Tahapan Perkembangan Anima dalam Asmara
Anima tidak bersifat statis, melainkan terus berkembang seiring dengan tingkat kedewasaan batin seseorang. Jung membagi perkembangan anima ini ke dalam empat tingkatan utama:
-
Tahap Hawa (Fisik & Insting): Pria pada tahap ini hanya tertarik pada aspek fisik atau kebutuhan dasar. Pasangan hanya dilihat sebagai objek hasrat atau pemenuhan naluri semata.
-
Tahap Helena (Pesona & Romantisme): Daya tarik bergeser ke arah kecantikan, pesona, dan romantisme ideal. Pria mengejar citra kemewahan atau status, namun belum melihat kepribadian asli sang wanita.
-
Tahap Maria (Spiritual & Kebijaksanaan): Hubungan mulai berorientasi pada kedalaman emosional dan nilai moral. Pria mampu melihat pasangan sebagai sosok yang patut dihormati, dicintai secara tulus, dan memiliki kesucian moral.
-
Tahap Sophia (Kebijaksanaan Tertinggi & Integrasi): Tingkat kematangan batin tertinggi, di mana pria dapat menerima pasangan secara utuh—baik kelebihan maupun kekurangannya—sebagai mitra bertumbuh dan pelengkap jiwa.
Cermin Diri dalam Hubungan
Melalui konsep anima, Jung mengajak setiap orang untuk melihat hubungan asmara sebagai media refleksi diri. Seseorang yang belum menyelesaikan konflik batinnya cenderung memilih pasangan yang memicu trauma masa lalu. Sebaliknya, seseorang dengan anima yang matang akan tertarik pada hubungan yang sehat, komunikatif, dan saling mendukung proses pendewasaan.
Daya tarik cinta bukan sekadar urusan chemistry visual atau kecocokan hobinya semata, melainkan panggilan dari dalam jiwa untuk melengkapi bagian diri yang masih tersembunyi. (*)
Sumber : prokal.co