Waspada! Ini 5 Kata-Kata Andalan Pasangan Peselingkuh saat Terpojok

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:59 WIB
Ilustrasi pria dan wanita.
Ilustrasi pria dan wanita.

PROKAL.CO- Perilaku tidak setia dalam suatu hubungan kerap kali ditutupi dengan taktik pertahanan diri yang sangat manipulatif. Ketika terindikasi melakukan kecurangan, seorang pembohong atau peselingkuh cenderung tidak memberikan jawaban jujur. Sebaliknya, mereka menggunakan strategi psikologis untuk memutarbalikkan fakta, memicu rasa bersalah pada pasangan, dan melarikan diri dari tanggung jawab.

Para pakar hubungan mengidentifikasi lima kalimat manipulasi verbal yang paling sering digunakan oleh pasangan yang menyembunyikan kebohongan ketika mulai dicurigai:

1. "Kenapa kamu selalu menginterogasi aku?"
Kalimat ini merupakan bentuk pemosisian diri sebagai korban secara antisipatif (victim-blaming). Pertanyaan santai atau klarifikasi mendasar langsung dibingkai sebagai bentuk tuduhan bermusuhan. Dengan membuat pasangan merasa seperti jaksa yang arogan, pelaku berusaha memicu rasa bersalah agar lawan bicaranya mundur dan membatalkan topik bahasan.

2. "Saya tidak ingat" atau "Itu kan sudah lama sekali"
Amnesia mendadak dijadikan perisai saat terpojok. Secara psikologis, seseorang jarang melupakan detail penting terkait peristiwa, lokasi, atau interaksi kunci. Alasan lupa digunakan secara sengaja untuk menghindari pemberian rincian cerita konkret yang dapat diverifikasi kebenarannya.

3. "Kamu punya masalah kepercayaan (trust issue) yang serius!"
Taktik ini adalah proyeksi psikologis klasik sekaligus gaslighting. Alih-alih menjelaskan perilaku mencurigakan atau pelanggaran komitmen yang dilakukannya, pelaku justru memutarbalikkan cermin. Mereka menyerang kesehatan mental dan harga diri pasangan hingga korban mulai meragukan intuisi serta kewarasan dirinya sendiri.

4. "Mengapa segala sesuatu harus jadi masalah besar buat kamu?"
Sebuah taktik minimisasi untuk mengecilkan bobot kesalahan yang disembunyikan. Dengan menyematkan label "dramatis" atau "berlebihan" pada kekhawatiran pasangan, pelaku membangun kerangka pertahanan agar isu utama yang dipermasalahkan terlihat sepele.

5. "Kalau kamu nggak percaya sama aku, ngapain kita masih bareng?"
Ini adalah opsi nuklir atau ultimatum ekstrem yang dikeluarkan saat pelaku benar-benar terdesak. Alih-alih menjawab pertanyaan inti, mereka mengeskalasi konflik ke tingkat kelangsungan hubungan. Taktik ini mengalihkan posisi korban, dari yang semula menuntut kejujuran menjadi pihak yang harus memohon dan meyakinkan agar hubungan tidak berakhir. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Pria dan Wanita