"Dia Cemburu Karena Sayang": Alasan Kenapa Banyak Perempuan Betah Bertahan dalam Toxic Relationship

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 08:30 WIB
ilustrasi pria dan wanita.
ilustrasi pria dan wanita.

PROKAL.CO- Di balik keluhan tentang pasangan yang terlalu mengekang, posesif, dan cemburuan, tidak sedikit perempuan yang justru memilih untuk tetap bertahan. Fenomena bertahan dalam hubungan yang terkesan mengontrol ini kerap memicu pertanyaan publik: mengapa seseorang rela mengorbankan kebebasannya demi mempertahankan pasangan yang protektif secara berlebihan?

Psikolog melihat kondisi ini bukan sekadar masalah "bucin" atau kesetiaan melainkan adanya dinamika psikologis kompleks yang tak terlepas dari persepsi cinta dan rasa aman.

"Cemburu Tanda Cinta": Tipuan Romantis yang Paling Manis
Salah satu alasan terkuat seseorang bertahan adalah persepsi yang keliru mengenai rasa cemburu. Dalam konstruksi sosial dan narasi media yang populer, sikap protektif berlebihan kerap diromatisasi sebagai bukti rasa takut kehilangan.

Label "dia begini karena sayang" kerap menjadi pembenaran atas batasan-batasan ketat yang diterapkan pasangan. Hal ini membuat perilaku kontrol terselubung sebagai bentuk perhatian ekstra yang manis.

Rasa Aman Palsu dan Adiksi Emosional
Di sisi lain, figur pasangan yang dominan dan suka mengatur sering kali memberikan ilusi kepastian. Bagi sebagian orang, tidak perlu mengambil keputusan sendiri membawa kenyamanan tersendiri, meskipun harus dibayar mahal dengan ruang gerak yang terbatas.

Tak hanya itu, pola roller coaster emosional juga memegang peranan besar. Hubungan posesif kerap diwarnai siklus pengekangan yang diselingi dengan fase manis penuh perhatian (love bombing). Naik-turun emosi inilah yang memicu trauma bonding—ikatan emosional kuat yang mirip adiksi, di mana seseorang merasa sulit melepaskan diri meski tahu hubungan tersebut tidak sehat.

Terkikisnya Percaya Diri secara Perlahan
Proses isolasi yang halus dan ucapan yang kerap meragukan kemampuan pasangan (gaslighting) berpotensi mengikis rasa percaya diri si perempuan. Tanpa disadari, timbul narasi internal bahwa ia memang tidak bisa mandiri tanpa pasangannya, atau takut tidak ada orang lain yang mau menerima dirinya.

Kombinasi antara harapan bahwa pasangan kelak bisa berubah (fixer complex) dan rasa enggan membuang waktu yang sudah diinvestasikan (sunk cost fallacy) akhirnya menjadi alasan kuat untuk terus melangkah, meski keluhan kerap terlontar di sepanjang jalan. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
relationship cemburu