PROKAL.CO, UJOH BILANG – Pembangunan jalan darat menuju Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), jadi solusi jangka panjang untuk masalah distribusi kebutuhan pokok.
Sampai saat ini, pada usia Indonesia yang sudah 81 tahun, alur distribusi barang dan orang menuju Long Apari masih mengandalkan aliran Sungai Mahakam. Saat musim kemarau melanda, transportasi jadi nyaris lumpuh total.
Pengiriman kebutuhan pokok ke permukiman warga yang masuk kawasan perbatasan itu jadi terhambat. Imbasnya, harga melambung sangat tinggi.
Baca Juga: Warga Long Apari Harapkan Kehadiran Negara, Musim Kemarau, Harga Beras Rp 1 Juta Per Karung
Wakil Bupati (Wabup) Mahulu, Suhuk, usai melepas Tim Operasi Pasar Murah Kabupaten Mahulu menuju Kecamatan Long Apari, Sabtu (8/8/2026), mengatakan operasi pasar murah dan bantuan pangan hanya menjadi langkah jangka pendek.
Persoalan mahalnya harga kebutuhan pokok di wilayah hulu tidak akan selesai sepenuhnya sebelum persoalan konektivitas jalan teratasi.
Menurutnya, keterbatasan infrastruktur transportasi menjadi salah satu faktor yang membuat biaya distribusi ke wilayah hulu tinggi.
Karena itu, Pemkab Mahulu bersama DPRD terus mendorong pemerintah pusat agar pembangunan jalan menuju wilayah hulu dapat dipercepat.
“Beberapa hari yang lalu, bulan yang lalu, kita sudah sering berkoordinasi, baik dari pihak pemerintah daerah maupun dari legislatif. Kemarin kita dorong untuk pembangunan jalan kita,” ujarnya.
Suhuk menjelaskan, pembangunan akses jalan menuju wilayah hulu menjadi kewenangan pemerintah pusat melalui APBN. Pemkab Mahulu pun terus menyampaikan aspirasi agar pembangunan tersebut mendapat perhatian lebih besar.
Baca Juga: Musim Kemarau, Pemkab Mahulu Kirim 700 Paket Sembako untuk Operasi Pasar Murah di Long Apari
“Kita terus dorong, terus meminta mereka untuk membangun jalan itu secepatnya,” tegasnya.
Ia memahami, pemerintah pusat memiliki skala prioritas dalam pembangunan infrastruktur. Saat ini, perhatian APBN masih banyak diarahkan pada penyelesaian pembangunan di wilayah bawah (hilir sungai).
Suhuk berharap setelah pekerjaan di wilayah bawah, pemerintah pusat dapat meningkatkan fokus pembangunan menuju kawasan hulu, termasuk Long Bagun, Long Pahangai dan Long Apari.
“Mudah-mudahan selesai daerah bawah ini, mungkin bisa fokus lagi ke daerah Long Bagun, Long Pahangai, Long Apari,” harapnya.
Bagi Pemkab Mahulu, percepatan pembangunan jalan bukan sekadar persoalan infrastruktur. Konektivitas menjadi kunci untuk menekan biaya logistik, menjaga pasokan kebutuhan pokok, sekaligus mengurangi kebergantungan masyarakat hulu terhadap transportasi sungai yang sangat rentan terhadap kondisi musim.
Operasi pasar murah pun diharapkan menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga masyarakat tetap mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau sembari menunggu solusi permanen melalui peningkatan konektivitas wilayah.
Pasokan Terlambat
Sementara itu, terkait keluhan masyarakat soal keterlambatan pasokan kebutuhan pokok ke wilayah hulu, Suhuk mengakui, penyaluran bantuan beras kali ini memang sempat mengalami keterlambatan.
Kata dia, kondisi tersebut disebut tidak lepas dari proses birokrasi dan keterbatasan anggaran pemerintah daerah.
“Memang sedikit terlambat karena proses yang harus diikuti. Di dalam birokrasi ini ada aturannya, itu yang membuat agak sedikit terlambat,” ujar Suhuk.
Meski demikian, ia memastikan pemerintah daerah terus berupaya menjaga pasokan kebutuhan pokok bagi masyarakat di wilayah hulu, terutama menghadapi musim kemarau saat ini, di aman arus transportasi sungai terganggu.
Suhuk menyebut, penyaluran bantuan beras tersebut merupakan penyaluran ketiga sepanjang 2026. Pemerintah daerah berharap ke depan dapat mengalokasikan anggaran lebih besar agar kegiatan serupa bisa dilakukan lebih optimal.
Baca Juga: Kemarau di Mahulu, Transportasi Nyaris Lumpuh, Harga Beras 25 Kilogram Jadi Rp 850 Ribu
“Ini sudah penyaluran ketiga kita untuk tahun ini (2026). Kita berharap ke depan kita bisa mengalokasikan lebih besar lagi anggaran untuk kegiatan-kegiatan seperti ini,” katanya.
Menurut Suhuk, kebutuhan intervensi pangan semakin penting ketika memasuki musim kemarau. Lima kecamatan di wilayah hulu menjadi kawasan yang menghadapi tantangan distribusi lebih berat karena sangat bergantung pada jalur sungai.
Ketika debit sungai menurun, pergerakan transportasi ikut terhambat. Dampaknya, pasokan barang melambat dan harga kebutuhan pokok berpotensi meningkat.(sya/far)
Editor : Faroq ZamzamiSumber : Kaltim Post