Mahakam Surut Parah, Pemprov Kaltim Buka Jalur Darat 'Penyelamat' Sembako ke Mahulu

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 10:10 WIB
Rudy Mas
Rudy Mas'ud

SAMARINDA – Pasokan bahan pokok di kawasan perbatasan hulu Mahakam berada dalam kondisi siaga satu. Menyurutnya debit air Sungai Mahakam secara drastis melumpuhkan moda transportasi air yang selama ini menjadi urat nadi pengiriman logistik menuju Kecamatan Long Pahangai dan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu).

Anjloknya kedalaman sungai memicu kelangkaan komoditas pangan vital seperti beras, gula pasir, minyak goreng, hingga LPG 3 kilogram. Mengantisipasi dampak sosial yang kian meluas, Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud menginstruksikan jajarannya untuk memangkas hambatan birokrasi dan segera memulihkan rantai pasok sembako.

"Terpenting bagaimana sembako bisa sampai ke sana. Jangan sampai ada masyarakat Kalimantan Timur mengalami kesulitan mendapatkan bahan pangan. Ini harus jadi perhatian serius kita. Jangan sampai kita keteteran kalau sudah kejadian," tegas Gubernur Rudy Mas'ud secara daring.

Alihkan Jalur Air ke Darat dan Pangkas Opsi Helikopter

Dalam skema penanganan darurat ini, opsi pengiriman logistik menggunakan helikopter dipastikan dicoret dari daftar pilihan utama mengingat biayanya yang sangat tinggi namun daya angkutnya terbatas. Pemprov Kaltim memilih mengalihkan total pergerakan logistik melalui jalur darat dari Ujoh Bilang menuju Long Pahangai hingga Long Apari.

Wakil Gubernur Seno Aji menjelaskan bahwa rute darat Ujoh Bilang menuju Long Pahangai sepanjang 60 kilometer relatif masih dapat dilalui armada truk. Namun, perbaikan darurat perlu difokuskan pada kawasan Desa Long Mesangaat.

Sementara untuk rute Long Pahangai menuju Long Apari sepanjang 100 kilometer, terdapat sekitar 60 kilometer badan jalan yang butuh diratakan menggunakan material pasir dan batu (sirtu) agar dapat dilintasi kendaraan pengangkut bahan pokok.

Guna mempercepat proses pengerasan jalan darurat tersebut, alat berat milik Dinas PUPR Kaltim yang berada di sekitar kawasan Mahulu langsung diterjunkan ke titik-titik kritis di lapangan.

Penanganan krisis pangan ini turut melibatkan rakor lintas instansi yang menghimpun Pemkab Mahulu, Bulog, Pertamina, Disperindagkop UKM, serta Dinas Pangan Kaltim untuk mengantisipasi dampak kemarau yang diprediksi berlangsung hingga Oktober mendatang. Guna meredam potensi lonjakan harga akibat membengkaknya biaya angkut darat, Pemprov Kaltim menyiagakan dana subsidi distribusi melalui Disperindagkop UKM senilai Rp 50 juta dan Dinas Pangan sebesar Rp 57 juta, yang dikombinasikan dengan pelaksanaan operasi pasar murah.

Sebagai langkah pencegahan jangka panjang agar ancaman krisis serupa tak berulang setiap kali fenomena kemarau ekstrem melanda, Gubernur Rudy Mas’ud menginstruksikan pembangunan infrastruktur logistik yang lebih tangguh di kawasan hulu. "Kalau perlu kita bangun gudang sembako untuk mengantisipasi kondisi seperti ini. Jangan menunggu sampai terjadi baru kita bergerak," pungkas Rudy. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Mahakam Ulu