Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Bisoq Keris, Cara Masyarakat Dasan Geria Lestarikan Warisan Leluhur

izak-Indra Zakaria • 2019-09-10 09:54:44

Ritual Bisoq Keris digelar di Desa Dasan Geria, Lombok Barat (Lobar). Tradisi ini muncul kembali setelah menghilang selama hampir tiga dasawarsa. Sebagai cara masyarakat menjaga warisan. Juga melestarikan budaya yang menjadi identitas turun temurun.

 

WAHIDI AKBAR SIRINAWA, GIRI MENANG

 

Tangan Jumarti secara perlahan menciduk air di tempayan gerabah. Mengisi centong (gayung) yang terbuat dari batok kelapa. Air itu kemudian disiramkan ke keris. Sebagai pertanda dimulainya ritual Bisoq Keris.

Bisoq berarti mencuci dalam Bahasa Indonesia. Secara harfiah Bisoq Keris berarti mencuci keris. Benda pusaka yang diwariskan secara turun temurun. Di beberapa daerah, terutama Pulau Jawa, tradisi ini dirawat dengan baik. Upaya serupa dilakukan di Dasan Geria. Salah satu desa di sebelah utara Kabupaten Lombok Barat (Lobar).

Tradisi Bisoq Keris kembali eksis. Setelah nyaris tiga dasawarsa menghilang. Dihidupkan kembali masyarakat bersama budayawan Sasak. Dilakukan di Padepokan Lingsir, Desa Dasan Geria. Pada Bulan Muharram.

Ada sekitar 25 keris dan ratusan benda pusaka lain. Yang dicuci malam itu. Sabtu, 7 September atau 7 Muharram untuk tahun penanggalan Islam.

Pencucian keris mengambil tempat di lantai dua Padepokan Lingsir. Bangunan ini seluruhnya terbuat dari kayu. Suasana sakral langsung terasa. Saat ketua Padepokan Lingsir H Imam Sanusi memulai ritual Bisoq Keris.

Seluruh lampu yang menerangi padepokan dimatikan. Gelap. Hanya menyisakan cahaya temaram dari lilin. Di lantai dua, ruangan yang luasnya sekitar 3x3 meter, dijejerkan puluhan keris dan tombak.

Di samping meja, nampak H Imam Sanusi duduk bersila. Didampingi Jumarti. Tokoh masyarakat Desa Dasan Geria. Di depan keduanya terdapat empat tempayan gerabah. Tiga tempayan berisi kembang dan sisanya sebagai tempat untuk wadah air bekas mencuci keris.

Pemilik keris mengambil benda pusakanya di atas meja. Diserahkan secara perlahan ke tangan Imam Sanusi. Perlahan, Sanusi mengeluarkan keris dari bungkusnya. Memperhatikan dengan detail bentuk keris. Merabanya dengan perlahan. Seolah sedang mengajak benda pusaka itu untuk berkomunikasi.

Ritual Bisoq Keris dimulai saat Jumarti menyiram air ke atas tubuh keris. Siraman itu disambut Sanusi dengan menggosok keris menggunakan tangannya. Selain air, Sanusi juga terlihat mengoleskan wewangian di sekujur tubuh keris.

Proses serupa diulangi. Untuk seluruh keris dan benda pusaka lainnya.

Suasana sakral Bisoq Keris bertambah dengan tembang yang dilantunkan dari lantai satu padepokan. Dinyanyikan menggunakan beragam bahasa. Dari Sansekerta, Jawa Kuno, sasak wayah, dan sasak milenial. Dilantunkan Ki Ageng Jelantik Sadarudin. Seorang dalang sekaligus pengemban budaya dan adat Sasak.

”Supaya bisa dimengerti semuanya. Jadi tidak saja pakai bahasa sansekerta,” kata Sadarudin.

Dalam proses Bisoq Keris, tembang tidak mesti dilantunkan. Hanya saja, Sadarudin memilih menembang untuk menambah kesakralan prosesi. Tembang yang dilantunkan pun disesuaikan dengan kondisi. Sadarudin menyebut tembangnya mengambil semangat Paer Patut Patuh Patju. Sesuai dengan slogan Kabupaten Lombok Barat.

”Sebenarnya untuk memberi semangat. Menghadirkan nuansa sakral dan khidmat,” ucap dia.

Tak ada cerita khusus dalam tembang yang dilantunkan Sadarudin. Kata dia, rangkaian kalimat yang dilontarkannya berisi pujian kepada Allah. Memohon keselamatan dan anugerah selama prosesi Bisoq Keris.

”Jadi isinya itu, bagaimana makhluk di atas dunia ini, timur barat, selatan utara, semuanya memuji kepada Tuhan YME,” jelas Sadarudin mengenai tembangnya.

Proses Bisoq Keris merupakan budaya yang perlu dilestarikan. Setidaknya seperti yang dikatakan Kades Dasan Geria Muhammad Nawa Komtaressa. Kata dia, acara ini menjadi salah satu ritual besar. Namun sempat hilang. Tidak pernah lagi dilakukan.

”Dari dulu sudah ada. Warisan turun temurun. Tapi, sudah dua atau tiga dasawarsa ini tidak pernah terlihat lagi,” kata Nawa.

Keprihatinan Nawa akan budaya Bisoq Keris yang semakin dilupakan, membuat dia mengajak tokoh masyarakat Sasak urun rembug. Menghidupkan kembali tradisi tersebut. Apalagi Bisoq Keris merupakan salah satu budaya tertua di Lombok. Juga memiliki nilai filosofi.

Nawa mengatakan, budaya bisa menjadi kebanggaan suatu bangsa. Identitas yang harus terus dijaga. Dia pun bersyukur. Masih banyak tokoh adat dan budayawan yang mendukung tradisi Bisoq Keris.

”Kira-kira apa yang kita banggakan? Keilmuan? Dunia? Modernisasi? Kita masih belum mampu. Harta juga tidak ada nilainya. Cuma budaya ini yang bisa kita banggakan,” tegas dia.

Sebagai kepala desa ke-14, sudah menjadi kewajiban Nawa untuk menghidupkan. Menjaga dan melestarikan budaya Sasak. Agenda Bisoq Keris pun diwacanakannya untuk digelar setiap tahun.

”Dan, kita harap pemerintah bisa siap menyambut kegiatan kebudayaan ini. Intinya, nilai budaya kita dapatkan. Tapi, lebih penting lagi itu nilai silaturahminya,” sebut Nawa.

Bisoq Keris, bagi Nawa, bukan sekedar ritual. Prosesi budaya. Tapi juga sebagai pengingat diri. Bahwa ada warisan benda pusaka yang harus dijaga. ”Melalui media ini, kita mengingat, menghargai, dan melestarikan apa yang sudah ditinggalkan untuk kita. Budaya ini jadi modal untuk bangkit lagi,” tegas dia. (bersambung/r3)

Editor : izak-Indra Zakaria
#feature