Ia pun memperdalam pengetahuannya tentang ideologi tersebut dengan membaca karya-karya Karl Marx, Friedrich Engels, dan Vladimir Lenin. Setelah menyelesaikan studinya, Tan Malaka pun kembali ke Indonesia pada tahun 1919. Tepatnya, setelah Perang Dunia I berakhir.
Ia kemudian mulai terlibat dalam gerakan - gerakan komunitas di Indonesia. Salah satunya gerakan buruh di Sumatera Utara (Sumut).
Setelah beberapa lama berkecimpung dalam dunia komunisme, ada satu waktu dimana ia pun diangkat menjadi Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1921. Namun, karena aktivitas politiknya yang dianggap dapat mengancam pemerintahan, ia akhirnya diusir dari Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1922.
Bukannya jera, selama kembali ke luar negeri, Tan Malaka terus berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Salah satunya dengan menjadi perwakilan Indonesia dalam Kongres Keempat Komintern (Komunis Internasional) pada tahun 1922.
Ia kemudian mendirikan Partai Republik Indonesia di Bangkok pada tahun 1927. Namun, upayanya untuk melemahkan pemerintah kolonial di Indonesia masih belum berhasil sepenuhnya. Tan Malaka memiliki pemikiran yang kuat tentang makna dari kemerdekaan Indonesia. Ia percaya bahwa kemerdekaan harus direbut dengan perlawanan fisik bukan dengan perundingan.
Akhir Hidup Tan Malaka
Tan Malaka meninggal dunia setelah ditangkap dan dieksekusi di Pethok, Kediri, Jawa Timur. Sebagian orang percaya, kematiannya juga penuh konspirasi.
Meskipun kontroversial, Tan Malaka telah banyak memberikan kontribusi yang tak terelakkan bagi perjuangan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan, khususnya bagi masyarakat miskin yang haus akan keadilan.
Tan Malaka akhirnya diabadikan sebagai Pahlawan Nasional melalui dikeluarkannya Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 53, yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno pada 28 Maret 1963. (*)