MELONGUANE – Ketegangan menyelimuti Kabupaten Kepulauan Talaud pasca-insiden penganiayaan yang diduga dilakukan oleh sejumlah oknum prajurit TNI Angkatan Laut (AL) terhadap warga sipil di Pelabuhan Melonguane, Kamis (22/1/2026) malam. Peristiwa ini memicu aksi demonstrasi besar-besaran dari Aliansi Masyarakat Adat Melonguane.
Insiden bermula sekitar pukul 21.00 WITA, saat sekelompok oknum prajurit TNI AL menggelar pesta karaoke dengan volume musik tinggi di kawasan pelabuhan. Sekitar pukul 23.30 WITA, Berkam Saweduling, seorang guru SMK setempat, mencoba menegur kelompok tersebut karena merasa terganggu oleh kebisingan di tengah malam.
Bukannya mereda, teguran tersebut justru direspons dengan kekerasan. Para oknum yang diduga dalam pengaruh alkohol tersebut mengeroyok Berkam secara membabi buta. Lima warga lain yang berniat menanyakan situasi tersebut justru ikut menjadi sasaran amarah petugas.
"Total ada enam korban luka. Saudara Berkam mengalami cedera serius dan harus mendapatkan perawatan intensif, bahkan memerlukan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih memadai," lapor Polres Kepulauan Talaud melalui Kasat Reskrim AKBP Arie Sulistyo Nugroho.
Merasa harga diri warga asli terusik, ratusan massa mendatangi Markas Komando (Mako) Lanal Melonguane pada Jumat (23/1/2026). Dipimpin oleh Bastian, massa menyampaikan tiga poin tuntutan utama:
Tindak Tegas: Meminta Presiden Prabowo Subianto dan Panglima TNI menindak keras para pelaku.
Copot Jabatan: Mendesak pencopotan Danlanal Melonguane jika proses hukum tidak transparan.
Relokasi Kapal: Meminta kapal AL sementara waktu meninggalkan wilayah kedaulatan Melonguane hingga ada kepastian hukum.
Warga menyebut perilaku oknum yang mabuk dan membuat kegaduhan bukan pertama kalinya terjadi, sehingga akumulasi kekesalan ini memuncak pada aksi demonstrasi tersebut.
Respon TNI AL: Permohonan Maaf dan Proses Hukum
Menanggapi gejolak di masyarakat, Komandan Lanal Melonguane, Letkol Laut (P) Yogie Kuswara, menyatakan pihaknya telah melakukan mediasi dengan keluarga korban. Ia menegaskan bahwa oknum yang terlibat kini tengah diproses sesuai hukum militer yang berlaku.
Senada dengan hal tersebut, Komandan Kodaeral VIII Laksamana Muda TNI Dery Triestanto Suhendi menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui keterangan pers, Sabtu (24/1/2026).
"Benar telah terjadi kesalahpahaman yang berujung pada keributan fisik. Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat Melonguane atas ketidaknyamanan yang terjadi," ujar Laksda TNI Dery.
Pihak TNI AL memastikan lima personel yang terlibat kini sedang menjalani pemeriksaan intensif untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di pengadilan militer guna memberikan efek jera. (*)
Editor : Indra Zakaria