JAKARTA – Indonesia tengah menghadapi ancaman tersembunyi yang berpotensi melumpuhkan struktur demografi bangsa. Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya, melayangkan peringatan keras (warning) kepada Pemerintah terkait anjloknya angka pernikahan nasional secara drastis. Dalam rapat kerja bersama Kementerian Agama pada Rabu (28/1/2026), sosok yang akrab disapa Bu Cinta ini mengungkap data mencengangkan: angka pernikahan di tanah air merosot hingga 15,1 persen dalam kurun waktu 2021 hingga 2024.
Atalia menegaskan bahwa tren ini bukan sekadar angka statistik, melainkan alarm bahaya yang bisa membawa Indonesia masuk ke jurang krisis populasi serupa dengan Korea Selatan, Jepang, dan China. Ia khawatir, jika tidak segera dilakukan intervensi melalui program ketahanan keluarga yang kuat, generasi muda Indonesia akan semakin enggan berkomitmen dalam ikatan suci pernikahan, yang pada akhirnya akan memicu penurunan angka kelahiran secara ekstrem.
Selain faktor ekonomi dan komitmen, Atalia menyoroti adanya pergeseran nilai moral yang mulai merambat dari negara-negara tetangga. Di banyak negara Asia Timur, tren hubungan seksual sebelum nikah kini mulai dianggap lumrah, yang berdampak langsung pada pudarnya urgensi anak muda untuk membangun institusi pernikahan resmi. Ia meminta Kementerian Agama serta tokoh lintas agama untuk bergerak masif memberikan pembekalan dan edukasi bahwa pernikahan adalah fondasi utama masyarakat yang religius dan stabil.
Dalam momen yang cukup emosional di tengah rapat, Atalia sempat merefleksikan kehidupan pribadinya sebagai bahan evaluasi. Ia meminta agar ujian yang menimpa keluarganya tidak menyurutkan optimisme anak muda untuk membangun rumah tangga. Menurutnya, kegagalan atau tantangan dalam sebuah hubungan seharusnya menjadi pelajaran, bukan alasan bagi generasi Z dan milenial untuk menjauhi institusi pernikahan.
Atalia mendesak Pemerintah untuk tidak menganggap remeh fenomena "resesi pernikahan" ini. Ia menekankan bahwa pembekalan pranikah yang berkualitas harus menjadi prioritas nasional agar visi Indonesia Emas tidak terhambat oleh krisis demografi di masa depan. Kemenag diharapkan mampu menciptakan inovasi program yang membuat pernikahan kembali dipandang sebagai tujuan hidup yang mulia dan terencana bagi kaum muda. (*)
Editor : Indra Zakaria