Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Mengenal Hisab dan Rukyat: Alasan di Balik Potensi Perbedaan Awal Ramadan 2026

Redaksi Prokal • 2026-02-17 12:15:00
ilustrasi rukyatul hilal
ilustrasi rukyatul hilal

JAKARTA – Penentuan 1 Ramadan seringkali menjadi topik hangat di tengah masyarakat karena adanya potensi perbedaan tanggal dimulainya ibadah puasa. Di Indonesia, perbedaan ini bukanlah hal baru dan merupakan hasil dari keragaman metode ilmiah serta pendekatan astronomi yang digunakan, yakni metode Hisab dan Rukyatul Hilal.

Perbedaan hasil akhir penentuan bulan suci ini sebenarnya berakar pada cara pandang masing-masing pihak. Metode Hisab mengandalkan perhitungan matematis dan astronomi yang sangat presisi. Organisasi seperti Muhammadiyah menggunakan sistem ini untuk menghitung posisi bulan jauh-jauh hari. Selama posisi bulan sudah melewati titik ijtima (konjungsi) dan secara hitungan berada di atas ufuk, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai awal bulan baru tanpa bergantung pada kondisi cuaca.

Sebaliknya, metode Rukyatul Hilal yang dipedomani oleh Nahdlatul Ulama (NU) dan Pemerintah melalui Kementerian Agama, menitikberatkan pada verifikasi faktual melalui pengamatan langsung. Pengamatan bulan sabit tipis (hilal) dilakukan saat matahari terbenam pada hari ke-29 bulan Syakban.

Dalam metode rukyat, terdapat kriteria ketat yang disebut kriteria MABIMS, yakni ketinggian bulan minimal harus mencapai 3 derajat dengan elongasi lebih dari 6,4 derajat. Jika saat pengamatan hilal tidak terlihat—baik karena posisi bulan masih terlalu rendah maupun faktor cuaca seperti mendung—maka bulan Syakban akan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari. Inilah yang kerap menyebabkan awal Ramadan versi rukyat jatuh sehari lebih lambat dibanding versi hisab murni.

Selain perbedaan teknis, satu hal mendasar yang perlu dipahami masyarakat adalah waktu pergantian hari dalam kalender Hijriah. Berbeda dengan kalender Masehi yang berganti pada tengah malam, hari baru dalam Islam dimulai tepat saat matahari terbenam (Maghrib). Oleh karena itu, hasil sidang isbat yang digelar sore hari menjadi penentu apakah malam tersebut sudah mulai melaksanakan salat Tarawih atau belum.

Perbedaan pendekatan ini sejatinya merupakan kekayaan ilmu pengetahuan dalam Islam. Meski metode yang digunakan berbeda, esensi ibadah Ramadan tetap sama. Pemahaman yang baik mengenai kedua metode ini diharapkan dapat membuat masyarakat lebih bijak dan toleran dalam menyikapi keragaman penetapan awal ibadah puasa tahun ini. (*)

Editor : Indra Zakaria