JAKARTA — Sejarah baru dalam dunia militer tanah air segera tercipta setelah Pemerintah Italia resmi menawarkan hibah kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi kepada TNI Angkatan Laut. Kehadiran kapal induk ini diproyeksikan menjadi lompatan besar bagi Indonesia dalam memperkuat kedaulatan maritim, dengan target kedatangan sebelum peringatan Hari Ulang Tahun TNI pada 5 Oktober 2026 mendatang.
Langkah strategis ini dilakukan melalui mekanisme kerja sama antar-pemerintah atau Government to Government (G to G) sebagai bagian dari penguatan hubungan bilateral pertahanan antara Indonesia dan Italia. Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa skema hibah ini murni bagian dari diplomasi pertahanan tanpa adanya imbal balik spesifik di luar mekanisme resmi yang telah disepakati oleh kedua negara.
Kepala Biro Informasi Pertahanan (Infohan) Setjen Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menjelaskan bahwa saat ini proses administrasi dan teknis masih terus digodok secara mendalam. Meski belum bisa memastikan tanggal pasti kedatangan, fokus utama saat ini adalah penyelesaian proses dismantling atau pembongkaran peralatan tertentu oleh pihak Italia serta memastikan kesiapan teknis kapal sebelum menempuh perjalanan menuju perairan nusantara.
Guna menyongsong operasional kapal raksasa ini, Kemhan bersama TNI AL telah bergerak cepat menyiapkan pembinaan calon awak kapal. Mengingat kompleksitas operasional sebuah kapal induk, pola penugasan kini tengah dimatangkan dengan kemungkinan melibatkan prajurit lintas matra di luar Angkatan Laut sesuai dengan kebutuhan operasi tempur dan pertahanan udara nantinya.
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Muhammad Ali, menyatakan optimismenya agar eks armada tempur andalan Italia tersebut bisa bersandar di Indonesia tepat waktu untuk memeriahkan HUT TNI tahun ini. Upaya mendatangkan kapal induk yang diproduksi oleh pabrikan Fincantieri ini sejalan dengan visi besar Indonesia untuk membangun kekuatan Blue Water Navy, yakni angkatan laut yang memiliki kemampuan tempur di perairan internasional dan samudra luas.
Langkah hibah ini semakin mempererat kerja sama militer kedua negara, setelah sebelumnya Indonesia juga mengakuisisi dua kapal perang canggih dari pabrikan yang sama, yakni KRI Brawijaya-320 yang telah tiba dan KRI Prabu Siliwangi-321 yang dijadwalkan menyusul pada awal April mendatang. Kehadiran Giuseppe Garibaldi di jajaran armada TNI AL diharapkan tidak hanya meningkatkan wibawa militer Indonesia di mata dunia, tetapi juga menjadi benteng pertahanan maritim yang lebih kokoh di kawasan regional.
UNTUK APA KAPAL INI
Indonesia punya ambisi besar menjadi Blue Water Navy, yaitu angkatan laut yang mampu beroperasi jauh di luar perairan teritorial (samudra luas). Selama ini, jangkauan tempur kita terbatas oleh jarak pangkalan di darat. Dengan adanya kapal induk ini, Indonesia bisa mengirimkan kekuatan udara ke titik mana pun di wilayah ZEE kita, seperti Laut Natuna Utara, tanpa harus membangun pangkalan udara fisik di sana.
Pusat Komando Tempur Lepas Pantai
Dalam rencana operasionalnya, kapal ini akan dijadikan Kapal Markas Utama. Di dalamnya terdapat sistem komunikasi dan radar yang jauh lebih kuat dibanding kapal fregat biasa. Kapal ini nantinya yang akan memimpin konvoi kapal-kapal perang lainnya (Gugus Tugas) saat melakukan patroli skala besar atau dalam kondisi konflik.
Fungsi "Landing Platform Helicopter" (LPH)
Mengingat kapal ini memiliki dek yang luas, TNI AL berencana menjadikannya pusat operasional helikopter. Hal ini sangat krusial untuk:
Pengoperasiaan drone yang digalakkan Indonesia. Kemudian anti-Kapal Selam: Helikopter pemburu kapal selam bisa lepas landas dan mendarat dengan cepat untuk memantau pergerakan bawah air di jalur-jalur sempit (choke points). Operasi Amfibi: Mengangkut pasukan khusus ke daratan menggunakan jalur udara dari tengah laut.
Karena kapasitasnya yang besar, pemerintah juga menyiapkan kapal ini untuk fungsi non-militer, yaitu Operasi Kemanusiaan (HADR). Jika terjadi bencana alam dahsyat di pulau yang aksesnya terputus, Giuseppe Garibaldi bisa berfungsi sebagai rumah sakit terapung raksasa yang mampu menampung banyak bantuan dan helikopter evakuasi sekaligus.
Laboratorium Doktrin Militer Baru
Rencana jangka panjangnya adalah sebagai sarana pembinaan awak. TNI AL belum pernah memiliki pengalaman mengelola kapal dengan manajemen operasional sekompleks kapal induk. Mengoperasikan kapal hibah ini adalah cara paling efisien secara biaya bagi prajurit kita untuk belajar cara mengelola logistik, penerbangan, dan perawatan kapal induk sebelum Indonesia benar-benar membeli atau membangun kapal induk yang baru dan lebih modern di masa depan. (*)
Editor : Indra Zakaria