Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Muhammadiyah Tetapkan Idulfitri 20 Maret 2026, Potensi Perbedaan Hari Raya Kembali Membayangi

Redaksi Prokal • 2026-03-04 13:53:10

Ilustrasi logo Muhammadiyah. (Antara)
Ilustrasi logo Muhammadiyah. (Antara)

JAKARTA – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah resmi mengetuk palu untuk penetapan Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah yang jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Keputusan yang diumumkan melalui maklumat resmi ini menjadi panduan awal bagi jutaan warga persyarikatan untuk bersiap menyambut hari kemenangan, meski ada sinyal kuat bahwa Lebaran di Indonesia tahun ini tidak akan berlangsung serentak.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menjelaskan bahwa penetapan ini didasarkan pada metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Berbeda dengan kriteria lokal, metode ini merujuk pada kesatuan tanggal di seluruh dunia. Secara astronomis, kriteria tinggi bulan di atas 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat diprediksi sudah terpenuhi di belahan bumi lain sebelum tengah malam waktu universal, sehingga Jumat, 20 Maret, ditetapkan sebagai awal Syawal secara global.

Namun, kepastian ini berpotensi menghadirkan perbedaan dengan ketetapan pemerintah. Peneliti senior dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menyebutkan bahwa pada petang 19 Maret 2026, posisi hilal di wilayah Asia Tenggara kemungkinan besar belum memenuhi kriteria MABIMS (tinggi 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat) yang dianut pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU).

"Ada potensi perbedaan karena perbedaan kriteria antara hilal lokal dan hilal global. Jika kriteria lokal belum terpenuhi, pemerintah kemungkinan akan menggenapkan Ramadan menjadi 30 hari (istikmal)," ungkap Thomas dalam analisisnya.

Jika skenario istikmal terjadi, maka pemerintah baru akan menetapkan Idulfitri pada Sabtu, 21 Maret 2026, atau selisih satu hari dengan Muhammadiyah. Meski demikian, kepastian resmi dari pemerintah masih harus menunggu hasil pemantauan lapangan (rukyatul hilal) dan Sidang Isbat yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis malam, 19 Maret.

Menyikapi potensi perbedaan ini, Haedar Nashir mengimbau seluruh umat Islam untuk tetap mengedepankan sikap saling menghormati dan menjunjung tinggi tasamuh (toleransi). Menurutnya, perbedaan dalam penentuan awal bulan hijriah adalah hal lumrah yang justru harus memperkuat tali silaturahmi antarumat.

Bagi masyarakat luas, pengumuman ini juga menjadi sinyal untuk mulai mengatur rencana mudik. Berdasarkan SKB 3 Menteri, hari Jumat, 20 Maret 2026, sebenarnya sudah ditetapkan sebagai tanggal cuti bersama, disusul libur nasional pada Sabtu dan Minggu, sehingga masa libur Lebaran tahun ini diperkirakan akan cukup panjang bagi para perantau. (*)

Editor : Indra Zakaria