Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Waspada Karhutla: 345 Titik Panas Terdeteksi di Seluruh Indonesia, Kalimantan Barat Tertinggi

Redaksi Prokal • 2026-03-08 08:15:00

ilustrasi karhutla
ilustrasi karhutla

JAKARTA — Berdasarkan data terbaru dari sistem pemantauan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), aktivitas titik panas atau hotspot di wilayah Indonesia menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dalam 24 jam terakhir. Hingga Sabtu (7/3/2026) siang, satelit penginderaan jauh mendeteksi sebanyak 345 titik panas yang tersebar di berbagai provinsi, meningkat 53 titik dibandingkan periode pemantauan sebelumnya.

Hasil pencitraan dari satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA mengungkapkan bahwa dari ratusan titik tersebut, terdapat 5 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi yang mengindikasikan potensi kuat terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebagian besar titik lainnya berada pada skala sedang sebanyak 326 titik, sementara 14 titik berada pada skala rendah. Tingkat kepercayaan ini menjadi parameter krusial karena semakin tinggi skalanya, semakin besar pula kemungkinan adanya api yang berkobar di wilayah tersebut.

Distribusi titik panas saat ini terkonsentrasi di Pulau Kalimantan dan Sulawesi, dengan Kalimantan Barat mencatatkan jumlah terbanyak mencapai 73 titik. Aceh menyusul di posisi kedua dengan 58 titik panas, disusul oleh Sulawesi Tengah dengan 49 titik. Selain itu, sebaran panas juga terdeteksi di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, hingga Maluku Utara dan Sumatera Utara, yang menunjukkan bahwa kewaspadaan terhadap ancaman karhutla harus merata di seluruh wilayah strategis.

Meskipun titik panas merupakan koordinat temperatur permukaan yang tinggi dan tidak selalu berarti kejadian kebakaran, akumulasi titik yang bergerombol di suatu lokasi menjadi indikasi kuat adanya aktivitas karhutla yang perlu segera ditindaklanjuti. Hingga saat ini, pemantauan berbasis satelit tetap menjadi instrumen paling efektif bagi pemerintah untuk mengawasi wilayah hutan dan lahan yang luas guna melakukan deteksi dini dan upaya pemadaman sebelum api meluas. (*)

Editor : Indra Zakaria