PROKAL.CO, JAKARTA — Pengamat pertanian dari Aliansi Petani Bersatu, Debi Syahputra, mempertanyakan narasi El Nino Godzilla yang sebelumnya kerap disampaikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ke publik, karena sejumlah wilayah Indonesia justru masih dilanda hujan berintensitas tinggi dan banjir bandang pada Mei 2026.
Alih-alih mengalami kekeringan ekstrem akibat minim hujan seperti yang dikhawatirkan sebelumnya, beberapa daerah masih mengalami cuaca basah, termasuk banjir bandang di Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada 8 Mei 2026.
Banjir di Bone menyebabkan sedikitnya dua warga meninggal dunia dan ratusan rumah terendam.
Baca Juga: Dramatis! Persiba Balikpapan Pastikan Bertahan di Liga 2 Usai Taklukkan Persekat Tegal
Tim SAR gabungan melakukan evakuasi di Kecamatan Tanete Riattang dan Tanete Riattang Timur yang menjadi wilayah terdampak paling parah.
Selain curah hujan tinggi, kondisi banjir juga diperparah oleh fenomena pasang air laut atau banjir rob yang menghambat aliran air menuju muara sungai.
Tidak hanya di Sulsel, hujan deras juga memicu rangkaian tanah longsor dan banjir di sejumlah wilayah di Jawa Barat sejak Minggu (3/5/2026) hingga Rabu (6/5/2026).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melaporkan dua orang meninggal dunia di Bogor, sementara puluhan rumah di Bandung dan Cianjur mengalami kerusakan serius.
Menurut Debi, prediksi iklim perlu disampaikan secara lebih proporsional agar tidak menimbulkan persepsi seolah-olah kekeringan ekstrem pasti terjadi di seluruh wilayah Indonesia.
“Kalau sejak April disebut akan terjadi El Nino kuat yang memicu kekeringan besar, publik tentu berekspektasi curah hujan turun drastis. Namun, faktanya pada Mei justru terjadi banjir bandang di Bone. Ini menunjukkan bahwa analisis iklim tidak bisa disederhanakan menjadi narasi tunggal,” ujar Debi, Sabtu (9/5/2026)
Ia menilai, fenomena atmosfer Indonesia sangat kompleks karena dipengaruhi banyak faktor regional maupun lokal.
Baca Juga: Tragedi di Lukas Enembe: Persipura Gagal Promosi, Suporter Mengamuk hingga Bakar Mobil
Karena itu, penggunaan istilah dramatis seperti “Godzilla” dinilai perlu diimbangi dengan penjelasan ilmiah yang lebih utuh agar masyarakat tidak salah memahami risiko iklim yang sebenarnya.
Menurut Debi, narasi kekeringan ekstrem yang terlalu dominan juga berpotensi memengaruhi psikologi petani dalam menentukan pola tanam dan produksi pangan nasional.
“Kalau narasinya terus menerus dibangun seolah Indonesia pasti mengalami kekeringan besar, petani bisa ragu untuk tanam. Padahal faktanya di sejumlah daerah hujan masih terjadi dan sebagian petani masih bertanam dengan baik. Ini penting karena sektor pertanian sangat bergantung pada kepastian informasi iklim,” jelasnya.
Debi juga mengingatkan agar komunikasi iklim kepada publik tidak dibangun dengan pendekatan yang terlalu menakutkan karena dapat berdampak langsung terhadap keputusan petani di lapangan.
Sebelumnya, Peneliti Pusat Riset Iklim dan Cuaca Ekstrem, BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan bahwa beberapa model global memprediksi Godzilla El Nino mulai terjadi sejak April 2026 dan diperkuat fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Kondisi tersebut diperkirakan menyebabkan Indonesia mengalami penurunan curah hujan signifikan selama musim kemarau April hingga Oktober 2026.
Baca Juga: Sinyal Hijau dari Pusat! Budi Djiwandono Pastikan Gerindra Kawal Hak Angket Gubernur Kaltim
Erma menyebut Godzilla El Nino dan IOD positif berpotensi mengakibatkan kekeringan di selatan Indonesia yang dapat mengancam lumbung padi nasional khususnya di pantai utara Jawa.
“Janganlah BRIN menakut-nakuti petani. Masa tanam bisa terganggu gara-gara narasi yang berlebihan. Padahal pada bulan-bulan yang diprediksi itu memang secara rutin sudah masuk musim kemarau. BMKG sendiri juga menyebut kondisi kemarau tahun ini masih kategori moderat,” tutur Debi. (*)