Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

80 Persen Warga Indonesia Merasakan Tekanan Biaya Hidup, Individu yang Melek Finansial Lebih Kecil Kemungkinan Stres

Redaksi • Rabu, 10 Juni 2026 | 10:18 WIB
Ilustrasi keuangan.
Ilustrasi keuangan

PROKAL.CO, JAKARTA-Sun Life Indonesia meluncurkan Financial Resilience Index 2026 pada Selasa (9/6/2026).

Ini sebuah studi yang menunjukkan kenaikan biaya hidup sebagai faktor utama yang memengaruhi ketahanan rumah tangga.

Survei yang dilakukan bersama Genpop pada April 2026 terhadap 1.000 responden berusia 18 tahun ke atas di seluruh Indonesia menemukan bahwa 80 persen masyarakat merasakan tekanan dari meningkatnya biaya hidup. 

Dalam siaran pers yang dikirim Sun Life Indonesia kepada media ini, disebutkan dalam studi itu juga menegaskan pentingnya literasi keuangan sebagai fondasi ketahanan finansial di tengah ketidakpastian ekonomi.

Baca Juga: Sering Disangka Lelah Biasa, Waspadai 7 Tanda Tersembunyi Diabetes yang Jarang Disadari

Sekaligus mencatat meningkatnya pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebagai sumber informasi dan panduan dalam mengelola keuangan. 

HASIL SURVEI

Dari keseluruhan responden yang disurvei, hasil studi menunjukkan bahwa hanya 14 persen responden yang merasa sangat aman secara finansial, sementara 45 persen menyatakan mampu bertahan lebih dari enam bulan tanpa penghasilan. 

Kondisi ini mengindikasikan bahwa masih banyak rumah tangga memiliki bantalan keuangan yang terbatas. 

Secara keseluruhan, ketahanan finansial memang mencatat sedikit perbaikan, dengan kelompok yang tergolong sangat tangguh meningkat dari 30 persen menjadi 34 persen.

Namun, penurunan pada kelompok menengah membuat proporsi rumah tangga dengan ketahanan rendah justru meningkat, menandakan pemulihan yang belum merata.

Temuan studi juga menunjukkan meningkatnya fokus masyarakat pada prioritas keuangan jangka pendek. 

Hampir separuh responden (48 persen) belum memiliki rencana keuangan jangka panjang atau hanya merencanakan keuangan mereka hingga satu tahun ke depan, yang mengindikasikan bahwa tekanan finansial saat ini dapat membatasi perencanaan keuangan jangka panjang. 

Sejalan dengan kondisi tersebut, pengelolaan pengeluaran sehari-hari menjadi prioritas keuangan utama bagi 56 persen responden dalam 12 bulan ke depan, melampaui menabung, berinvestasi, maupun tujuan keuangan jangka panjang lainnya.

Bagi banyak masyarakat Indonesia, kenaikan biaya hidup tidak hanya memengaruhi anggaran rumah tangga, tetapi juga membatasi kemampuan mereka untuk meningkatkan kondisi keuangan.

Sebanyak 30 persen responden menilai, kenaikan biaya hidup sebagai tantangan terbesar dalam memperbaiki kondisi keuangan mereka, mengungguli faktor pendapatan yang tidak stabil maupun keterbatasan pengetahuan keuangan. 

Untuk mengelola peningkatan biaya hidup, banyak masyarakat mengambil langkah-langkah penyesuaian jangka pendek. 

Hampir seperempat responden (23 persen) menggunakan tabungan yang dimiliki, 26 persen mengurangi atau menunda pengeluaran kebutuhan penting, dan 5 persen menunda kontribusi dana pensiun. 

Meskipun langkah-langkah tersebut dapat membantu menghadapi tekanan finansial saat ini, dalam jangka panjang kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kesiapan dan ketahanan finansial mereka.

Baca Juga: Akui Ketangguhan Skuad Garuda, Pelatih Mozambik: Tim Indonesia Tampil Sangat Kuat!

Albertus Wiroyo, President Director Sun Life Indonesia, mengatakan temuan ini mencerminkan bagaimana banyak masyarakat Indonesia menyeimbangkan kebutuhan finansial jangka pendek dengan tujuan jangka panjang. 

“Di tengah perubahan kondisi ekonomi, kesiapan finansial menjadi kunci utama untuk membangun ketahanan finansial,” katanya.

Di sinilah peran mitra keuangan yang dapat dipercaya, menjadi semakin penting, untuk memberikan rasa tenang dalam menghadapi ketidakpastian saat ini sekaligus membantu merencanakan masa depan.

Namun, di tengah tekanan tersebut, studi ini menunjukkan pola yang jelas, mereka yang lebih siap secara finansial cenderung lebih mampu menghadapi situasi ketidakpastian dengan baik, di mana literasi keuangan menjadi faktor pembeda utama. 

Artinya, meskipun tekanan ekonomi memengaruhi rumah tangga di seluruh kelompok pendapatan, kemampuan untuk menghadapi tantangan tersebut semakin dipengaruhi oleh pengetahuan dan kesiapan finansial masing-masing individu. 

LITERASI MENJADI KUNCI

Individu yang melek finansial, yaitu mereka yang mampu memahami, mengelola, dan mengambil keputusan keuangan secara tepat, menunjukkan tingkat kepercayaan diri finansial yang jauh lebih tinggi. 

Mereka mencatat skor 53 poin lebih tinggi dalam indeks kepercayaan finansial (skala 100 poin) dan tiga kali lebih mungkin merasa siap menghadapi kenaikan biaya hidup. 

Mereka juga memiliki tingkat optimisme terhadap kondisi keuangan pada masa depan yang 47 poin lebih tinggi dan secara signifikan lebih kecil kemungkinannya mengalami stres finansial secara berkelanjutan, dibandingkan mereka yang memiliki tingkat literasi keuangan yang lebih rendah. 

Selain itu, mereka lebih siap menghadapi keadaan darurat serta memiliki kebiasaan perencanaan jangka panjang yang lebih konsisten.

Baca Juga: Kejar Standar Asia, Borneo FC Tagih Janji Gubernur Rudy Mas’ud Terkait Lampu Stadion Segiri

Manfaat perencanaan keuangan jangka panjang terlihat jelas. 

Di antara responden yang memiliki rencana keuangan jangka panjang, 86 persen merasa yakin dapat mencapai tujuan keuangan mereka, dibandingkan hanya 25 persen di antara mereka yang tidak memiliki rencana keuangan. 

Selain itu, 78 persen merasa siap menghadapi keadaan darurat finansial, jauh lebih tinggi dibandingkan 13 persen pada responden yang tidak memiliki perencanaan keuangan jangka panjang. 

Temuan ini menunjukkan bahwa literasi keuangan tidak hanya meningkatkan kepercayaan diri, tetapi juga membentuk cara seseorang merespons tekanan ekonomi. 

Di tengah kenaikan biaya hidup, kemampuan untuk mengevaluasi pilihan, memprioritaskan pengeluaran, dan merencanakan ke depan menjadi semakin penting.

Kemampuan ini kini semakin diuji oleh perkembangan baru, yakni meningkatnya penggunaan AI sebagai sumber panduan keuangan.

MEMBANGUN KEPERCAYAAN PADA ERA AI

Di tengah semakin kompleksnya pengambilan keputusan keuangan, masyarakat kini memiliki akses yang lebih luas terhadap informasi keuangan melalui platform digital dan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI)

Masyarakat Indonesia semakin memanfaatkan teknologi AI sebagai sumber panduan keuangan. 

Sebanyak 68 persen responden mengaku menggunakan generative AI untuk mencari informasi dan panduan keuangan, sementara 67 persen memperkirakan penggunaan teknologi ini akan terus meningkat dalam 12 bulan ke depan. 

Temuan ini menempatkan Indonesia di antara negara-negara terdepan dalam adopsi generative AI untuk kebutuhan panduan keuangan di Asia. 

Bagi banyak masyarakat, AI kini menjadi sarana yang praktis untuk memahami topik keuangan, membandingkan pilihan, dan membantu pengambilan keputusan sehari-hari.

Studi ini juga menemukan bahwa tingkat adopsi generative AI lebih tinggi di kalangan individu dengan tingkat literasi keuangan yang baik. 

Walau teknologi dapat memperluas akses terhadap informasi keuangan, literasi keuangan tetap menjadi fondasi penting yang membantu individu mengevaluasi informasi secara kritis dan mengambil keputusan keuangan yang tepat. 

Di tengah meningkatnya adopsi generative AI, peran penasihat keuangan tetap dianggap penting, terutama untuk keputusan yang lebih kompleks dan berdampak jangka panjang. 

Temuan ini menunjukkan bahwa AI tidak menggantikan peran manusia, melainkan melengkapinya. 

Teknologi membantu masyarakat mengakses informasi dengan lebih cepat, sementara panduan profesional tetap menjadi sumber kepercayaan dalam mengambil keputusan keuangan yang lebih besar dan strategis.

Baca Juga: Resmi Naik Hari Ini! Harga Pertamax Tembus Rp 16.250 per Liter, BBM Subsidi Tetap Aman

Albertus menambahkan, teknologi telah mengubah cara masyarakat mengakses informasi dan literasi keuangan, tapi tidak menggantikan kebutuhan akan panduan ahli atau penasihat keuangan yang bertanggung jawab. 

“Penguatan fondasi ini tetap penting agar individu dapat mengevaluasi informasi secara kritis, mengambil keputusan yang tepat, serta menavigasi lanskap keuangan yang semakin kompleks menuju ketahanan finansial yang lebih baik,” sebutnya.

Secara keseluruhan, tiga temuan utama ini menunjukkan gambaran yang konsisten bahwa masyarakat Indonesia tengah menghadapi tekanan finansial yang nyata, literasi keuangan menjadi kunci utama ketahanan, dan teknologi semakin mengubah cara masyarakat mencari bantuan dalam mengelola keuangan. 

Di tengah tekanan ekonomi yang terus berlangsung, diketahui pula bahwa individu dengan tingkat literasi dan kesiapan finansial yang lebih baik cenderung mampu mempertahankan rasa percaya diri, tetap optimistis, dan menjaga fokus pada tujuan keuangan jangka panjang. (*)

Editor : Faroq Zamzami
#sun life indonesia #kenaikan biaya hidup #kecerdasan buatan