PROKAL.CO- Proyek pembangunan megaproyek Kereta Api Kalimantan dipastikan masuk dalam radar prioritas pembangunan nasional. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi secara resmi melaporkan rencana kerja strategis ini langsung kepada Presiden Prabowo Subianto di Jakarta, sebagai bagian dari target ambisius memperluas jaringan perkeretaapian nasional hingga menyentuh angka 10.524 kilometer.
Hingga pertengahan tahun 2026 ini, jaringan rel kereta api aktif di tanah air baru mencakup sekitar 6.927 kilometer yang mendominasi Pulau Jawa, Sumatera, serta sebagian Sulawesi dan Papua. Melalui laporan ini, pemerintah berkomitmen kuat untuk mempercepat pemerataan konektivitas demi mendukung mobilitas masyarakat sekaligus membenahi sistem logistik nasional.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjelaskan, cetak biru pengembangan jalur kereta api di setiap pulau dirancang berbeda karena harus menyesuaikan dengan karakteristik serta kebutuhan utama daerah masing-masing. Jika di Pulau Sumatera pembangunan diarahkan secara seimbang untuk angkutan barang dan penumpang, maka untuk wilayah Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, arah kebijakan akan difokuskan penuh untuk memperkuat distribusi komoditas unggulan dan memicu roda aktivitas ekonomi daerah.
"Pengembangan jaringan kereta api nasional bukan sekadar pembangunan infrastruktur transportasi, tetapi juga upaya menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui aksesibilitas yang lebih baik, biaya logistik yang lebih efisien, serta peluang ekonomi yang semakin terbuka di berbagai daerah," ujar Dudy Purwagandhi dalam keterangan resminya, Jumat (12/6/2026).
Langkah konkret mematangkan kereta api logistik di Kalimantan ini digarap simultan bersama dengan proyek strategis lainnya, seperti percepatan jaringan Kereta Api Trans Sumatera dan penyempurnaan operasional Kereta Api Makassar–Parepare di Sulawesi.
Keberadaan jaringan rel di bumi Kalimantan diyakini bakal menjadi katalisator penting bagi sektor industri lokal. Jalur kereta ini diproyeksikan mampu memotong waktu distribusi hasil perkebunan, pertambangan, dan komoditas andalan lainnya yang selama ini masih sangat bergantung pada jalur darat via jalan raya dan jalur sungai yang terbatas. Bagi para pelaku usaha, moda transportasi berbasis rel ini menjadi angin segar yang dinanti karena diklaim mampu memangkas biaya logistik secara signifikan sekaligus mendongkrak daya saing produk lokal di pasar domestik maupun internasional.
Selain melaporkan rencana pembangunan di Kalimantan, Menhub Dudy juga memaparkan rapor hijau performa perkeretaapian nasional di hadapan Presiden Prabowo. Berdasarkan data terbaru, jumlah penumpang kereta api nasional mencatatkan tren pertumbuhan positif yang naik sebesar 8,8 persen, yakni dari 500,5 juta orang pada kurun waktu 2024 menjadi hampir 550 juta orang sepanjang tahun 2025.
Pemerintah juga terus memperluas jangkauan sosial-ekonomi dengan mengoperasikan gerbong khusus ramah kantong bagi para petani dan pedagang di sejumlah wilayah seperti Lebak, Garut, Cilacap, Yogyakarta, Solo, Semarang, Blitar, Jember, hingga Banyuwangi. Program ini diklaim mendapat sambutan hangat karena sangat membantu memangkas biaya angkut hasil bumi.
Melalui berbagai ekspansi jalur, termasuk proyek masa depan di Kalimantan, Kementerian Perhubungan optimistis kehadiran infrastruktur berbasis rel yang kokoh ke depan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mewujudkan visi Indonesia yang maju dan saling terhubung erat. (*)
Editor : Indra Zakaria