PROKAL.CO, JAKARTA-Hasil monitoring dan analisis percakapan digital yang dilakukan Sintesa Strategi Indonesia (SSI) dengan Datalinker menunjukkan bahwa isu Jokowi turun gunung menjadi salah satu topik politik yang mendapatkan perhatian besar di ruang digital selama periode 23 Mei–21 Juni 2026.
Ikrama Masloman, Direktur SSI, dalam keterangan persnya, Senin (22/6/2026), menyebut pemantauan topik itu dilakukan terhadap berbagai platform media sosial, meliputi X (Twitter), Facebook, Instagram, YouTube, TikTok, serta media online.
Dalam periode tersebut, tercatat lebih dari 58.092.552 percakapan dengan kata kunci Jokowi dan tercatat lebih dari 23.542.302 percakapan dengan kata kunci Joko Widodo, dengan total percakapan 158.761.
Meningkatnya pembicaraan mengenai isu ini dipicu oleh sejumlah peristiwa, terutama pernyataan Presiden Ke-7 RI, Joko Widodo, dalam Rakernas PSI di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), serta informasi mengenai safari politik dan kunjungan ke berbagai daerah yang disampaikan oleh sejumlah tokoh PSI dan relawan Projo.
Selain itu, agenda blusukan yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Juni 2026 di Provinsi Lampung, Nusa Tenggara Timur, dan Jawa Barat turut memperkuat diskursus publik mengenai alasan dan tujuan di balik langkah politik yang disebut sebagai "turun gunung" itu.
Berdasarkan distribusi percakapan, media sosial (medsos) menjadi ruang dominan dalam pembahasan isu ini dengan porsi sebesar 90,6 persen, sedangkan media online menyumbang sekitar 9,4 persen dari total pembicaraan.
Dari sisi sentimen, percakapan publik menunjukkan kecenderungan positif.
Sentimen positif tercatat sebesar 43,5 persen, sementara sentimen negatif berada di angka 18 persen dan sisanya bersifat netral 38,6 persen.
Temuan ini menunjukkan bahwa dukungan dan persepsi positif terhadap Jokowi masih
lebih besar dibandingkan narasi kontra di ruang digital.
Pada aspek tone atau nuansa bahasa, sebanyak 41,4 persen percakapan menggunakan bahasa bernada positif, 39,3 persen bernada netral, dan 18,6 persen bernada kritis.
Menariknya, meskipun nada bahasa kritis cukup terlihat, tapi pada stance (sikap dalam narasi) proporsi sikap kontra (18 persen) terhadap Jokowi relatif lebih kecil dibandingkan dukungan (43,6 persen) yang muncul.
Baca Juga: DPRD Minta Disdag Lebih Kreatif Hidupkan Aktivitas di Pasar Kilometer 12
Analisis tren percakapan memperlihatkan bahwa tanggal 23 Mei menjadi titik awal menguatnya isu Jokowi turun gunung dalam rentang penelitian ini.
Momentum tersebut dipicu oleh pernyataan
tokoh PSI mengenai rencana safari nasional Jokowi ke berbagai daerah.
Pada saat yang sama, berbagai konten digital, mulai dari pemberitaan media, video blusukan, hingga lagu bertema Jokowi, turut memperbesar eksposur isu tersebut.
Puncak sentimen negatif mulai terlihat pada awal Juni, terutama dipengaruhi oleh dua kelompok isu utama.
Pertama, kritik dari sejumlah kalangan yang mengaitkan langkah Jokowi dengan dinamika politik nasional, khususnya relasi dengan PDIP.
Kedua, kembali menguatnya isu lama terkait polemik ijazah dan pengaitan sejumlah persoalan tata kelola pemerintahan.
Meski demikian, sentimen positif kembali menguat setelah muncul sejumlah momentum, seperti kehadiran Jokowi menyaksikan pertandingan sepak bola AFF U-19, kemunculan tagar #PriaSoloItu, serta berbagai narasi apresiatif di media sosial yang menonjolkan figur dan kepemimpinan Jokowi.
Analisis terhadap kata kunci turunan juga menunjukkan bahwa dari delapan kata kunci utama yang ditelusuri, enam di antaranya didominasi sentimen positif.
Sentimen paling positif ditemukan pada
kata kunci blusukan, keliling daerah, dan kepemimpinan, yang seluruhnya memiliki tingkat sentimen positif di atas 70 persen.
Sebaliknya, sentimen negatif hanya lebih dominan pada dua kata kunci, yakni ijazah dan PDIP.
Kedua isu tersebut menjadi sumber utama kritik terhadap Jokowi selama periode penelitian.
Kajian topik terpadu memperlihatkan bahwa citra positif Jokowi tersebar pada sepuluh segmen pembahasan, antara lain sentimen publik, kebijakan publik, infrastruktur, sosial dan bantuan, ekonomi makro, gaya hidup, pemasaran, personal dan kasual, olahraga, serta berbagai isu lainnya.
Sementara itu, sentimen negatif terkonsentrasi pada tiga segmen utama, yaitu politik dan pemilu, etika dan skandal, serta hukum dan kriminal.
Secara umum, hasil penelitian menunjukkan bahwa isu Jokowi turun gunung mendapatkan respons luas di ruang digital dengan kecenderungan sentimen yang relatif positif.
Baca Juga: Siap-Siap! Terowongan Pertama di Kalimantan Ditarget Aktif September, Ini Tahap Penentuannya
Namun, dinamika politik, relasi dengan PDIP, serta isu lama seperti polemik ijazah masih menjadi faktor utama yang memengaruhi munculnya sentimen negatif terhadap Jokowi.
Penelitian ini merupakan hasil monitoring percakapan digital dan dimaksudkan untuk memotret dinamika opini publik di ruang digital selama periode penelitian, bukan sebagai survei elektoral ataupun representasi keseluruhan opini masyarakat Indonesia.
“Sebagai pertanggung jawaban, kami terbuka untuk membuka sumber data, termasuk raw data berita dan percapakan, selama masa publikasi, yaitu dua hari sejak rilis diterbitkan, jika ada permintaan asosiasi atau kelompok yang kredibel,” kata Ikrama Masloman. (*)
Editor : Faroq Zamzami