Ancaman El Nino Kian Nyata, BNPB Terjunkan Tim Darat dan OMC di Tiga Provinsi Kalimantan

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:30 WIB
BNPB menyiagakan pesawat Cessna Caravan 208B PK-FPU di untuk operasi modifikasi cuaca di Kalteng.(BNPB)
BNPB menyiagakan pesawat Cessna Caravan 208B PK-FPU di untuk operasi modifikasi cuaca di Kalteng.(BNPB)

PROKAL.CO- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengambil langkah sigap dengan menyiagakan pasukan operasi pemadaman darat dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di tiga provinsi prioritas di Pulau Kalimantan, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Langkah darurat ini ditempuh untuk mengantisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah potensi cuaca panas ekstrem dan kekeringan akibat fenomena El Nino.

Kepala BNPB, Suharyanto, mengonfirmasi bahwa ketiga wilayah di Kalimantan tersebut masuk dalam daftar enam provinsi siaga darurat karhutla nasional yang menjadi fokus penanganan utama pemerintah pusat.

"OMC sudah dilakukan di enam provinsi prioritas dan provinsi-provinsi lain. Enam provinsi siaga darurat itu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatra Selatan, Riau, dan Jambi," tegas Suharyanto saat memberikan keterangannya di Jakarta.

Meski demikian, pelaksanaan modifikasi cuaca di wilayah Kalimantan kini menghadapi tantangan tersendiri. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi pertumbuhan awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami penurunan hingga akhir Agustus 2026, yang berpotensi menyulitkan proses penyemaian garam dari udara.

"Tadi, dari BMKG mengatakan mudah-mudahan nanti sebelum tanggal 18 ada. Nah, setiap ada pertumbuhan awan hujan, kita akan segera laksanakan OMC. Pesawatnya sudah siaga terus di daerah," jelas Suharyanto mengenai kesiapan armada udara di lapangan.

Suharyanto menerangkan bahwa ketika tutupan awan hujan menipis akibat cuaca yang terlalu terik, efektivitas penanganan karhutla akan sangat bergantung pada kekuatan tim pemadam di jalur darat. Keterbatasan kapasitas angkut helikopter pengebom air (water bombing) membuat penyiraman dari udara murni berfungsi sebagai pendukung untuk memperlambat laju kobaran api.

"Operasi udara itu hanya membantu, water bombing itu hanya mengangkut air empat ton. Nah, kalau tiga water bombing bekerja sama-sama, berarti air yang dijatuhkan ke api hanya 12 ton. Itu kalau lahan gambut, paling bisa memadamkan 10 meter persegi, dan itu tidak padam total karena kan masih menyala, jadi harus terus disemprot oleh pasukan darat," paparnya mendalam.

Atas dasar itulah, BNPB mengimbau seluruh pemerintah daerah di kawasan Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan personel pemadam darat hingga tingkat tapak. Respons cepat tim darat di titik mula api menjadi kunci utama agar titik panas (hotspot) tidak meluas menjadi krisis karhutla yang melumpuhkan aktivitas masyarakat.

"Jadi tetap semuanya harus siap-siaga pasukan darat. Seandainya nanti ada kebakaran, upayakan lewat pasukan darat karena helikopter BNPB banyak fokusnya di enam provinsi prioritas. Kita masih punya cadangan tiga helikopter yang bisa bergerak ke mana-mana," pungkasnya.

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
karhutla