Ancaman Karhutla Kembali Mengintai, Kalbar dan Kalteng Jadi Prioritas Penanganan Nasional

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 06:54 WIB
Petugas berupaya memadamkan karhutla.
Petugas berupaya memadamkan karhutla.

 

JAKARTA — Lonjakan titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali memicu alarm kewaspadaan di tanah air. Peningkatan drastis yang terjadi di Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Tengah (Kalteng) memaksa pemerintah bertindak cepat dan menetapkan kedua wilayah tersebut sebagai fokus penanganan prioritas nasional.

Kondisi terkini ini membalikkan tren penurunan yang sempat tercatat beberapa waktu sebelumnya. Masuknya puncak musim kemarau yang berbarengan dengan fenomena El Niño pada September membuat risiko kebakaran kian membumbung tinggi.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengungkapkan bahwa dinamika cuaca saat ini menuntut gerak cepat dari seluruh pemangku kepentingan. Usai meninjau penanganan karhutla di Jambi, ia menegaskan pentingnya merespons lonjakan angka hotspot sebelum situasi berkembang menjadi kebakaran lahan yang tak terkendali.

Langkah konkret pun segera diambil. Menhut bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto bertolak ke Pontianak guna menggelar koordinasi darurat bersama jenderal lapangan di daerah, mulai dari Gubernur, Kapolda, hingga Pangdam. Pertemuan ini difokuskan untuk mengevaluasi strategi di lapangan sekaligus memperkuat kembali barisan mitigasi guna menekan angka hotspot dan fire spot yang telah terverifikasi.

Gentingnya situasi ini tergambar jelas dalam data Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) Kemenhut per 1 September. Di Kalimantan Barat, lonjakan terjadi sangat drastis dari 273 titik menjadi 859 titik panas. Tren serupa membayangi Kalimantan Tengah yang mencatatkan kenaikan dari 253 menjadi 623 titik.

Tak hanya di Pulau Borneo, eskalasi titik panas juga merembet ke wilayah lain. Sumatera Selatan mencatat peningkatan dari 20 menjadi 89 titik, Kalimantan Selatan bertambah menjadi 73 titik, dan Jambi yang sebelumnya steril kini mulai mendeteksi munculnya empat titik api. Sementara itu, Provinsi Riau masih terpantau relatif aman tanpa hotspot.

Dengan ancaman puncak El Niño yang membayang di depan mata, pemerintah kini mengandalkan kecepatan deteksi dini dan sinergi lintas sektor. Kesiapsiagaan penuh di tingkat tapak menjadi kunci utama agar potensi titik api baru bisa dipadamkan sebelum meluas dan memicu krisis asap yang lebih besar. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
karhutla