Gunung Anak Krakatau Erupsi, Suara Dentuman dan Getaran Merambat Hingga Bandung

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 16:47 WIB
Gunung anak krakatau erupsi.(Facebook)
Gunung anak krakatau erupsi.(Facebook)

BANDUNG — Suara dentuman misterius disertai getaran lembut yang dirasakan warga di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, hingga Lampung akhirnya terkonfirmasi. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut fenomena tersebut dipicu oleh aktivitas erupsi menerus Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang terjadi sejak Sabtu (5/9/2026).

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, mengonfirmasi bahwa dentuman dan getaran pintu maupun kaca hingga ke kawasan Bandung Raya—berjarak sekitar 700 kilometer secara garis lurus dari Selat Sunda—merupakan akibat dari rambatan gelombang tekanan udara berfrekuensi rendah (infrasound).

“Gelombang suara dari Anak Krakatau dapat merambat jauh melalui atmosfer dan akhirnya terdengar di Bandung, meskipun beberapa wilayah pesisir yang lebih dekat belum tentu mendengarnya dengan jelas,” terang Lana.

Lana menjelaskan, dentuman hebat tercipta dari pelepasan gas yang teramat cepat serta turbulensi material lava di dalam konduit gunung. Kondisi lapisan atmosfer, suhu, dan arah angin kemudian membelokkan serta memantulkan gelombang suara tersebut hingga jatuh kembali di area yang jauh dari pusat letusan.

Secara visual, pengamatan PVMBG merekam semburan merah menyala ala lava fountain (lava air mancur) yang berlangsung secara kontinu. Meski demikian, Badan Geologi menepis isu liar terkait ancaman gelombang tsunami akibat erupsi ini.

“Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik. Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami,” tegas Lana.

Saat ini, Gunung Anak Krakatau berada pada Status Level III (Siaga) yang ditetapkan sejak 2 Juli 2026. Zona bahaya direkomendasikan steril dari segala bentuk aktivitas masyarakat, pendaki, maupun wisatawan dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Warga diimbau untuk selalu memantau kanal resmi MAGMA Indonesia dan tidak terprovokasi oleh spekulasi yang tidak terverifikasi. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
anak gunung krakatau