Bank Dunia Soroti 183,6 Juta Warga RI Masuk Kategori Miskin pada 2026

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 18:15 WIB

Ratusan juta warga RI berkategori miskin.(Ilustrasi)

Ratusan juta warga RI berkategori miskin.(Ilustrasi)

JAKARTA — Wajah kemiskinan di Indonesia menghadirkan potret yang kontras jika ditakar memakai standar negara berpendapatan menengah atas (upper-middle income). Dalam laporan Macro Poverty Outlook edisi terbaru, Bank Dunia memproyeksikan sekitar 64,2 persen atau setara 183,6 juta penduduk Indonesia masuk dalam kategori miskin pada 2026.

Proyeksi raksasa tersebut dihitung berdasarkan ambang batas pengeluaran sebesar USD 8,30 per orang per hari (Purchasing Power Parity/PPP 2021) atau berkisar Rp4,39 juta per kapita per bulan. Kendati terkesan fantastis, persentase ini sebenarnya melandai tipis dibandingkan posisi 2025 yang berada di angka 65,2 persen.

Jika menggunakan standar kemiskinan yang lebih moderat, yaitu USD 4,20 per kapita per hari, jumlah penduduk miskin di Indonesia tercatat sebesar 16,4 persen atau sekitar 46,9 juta jiwa per Maret 2026. Angka ini susut 3,4 poin persentase berkat efektivitas stimulus fiskal pemerintah dan kenaikan upah pekerja keahlian rendah yang tumbuh rata-rata 6 persen secara tahunan.

Adapun pada garis kemiskinan ekstrem internasional (USD 3 per kapita per hari), tingkat kemiskinan Indonesia berada di level yang makin kecil, yakni 3,6 persen pada 2026—turun dari 4 persen pada tahun sebelumnya.

Meski pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025 tetap kokoh di angka 5,1 persen berkat sumbangan investasi dan ekspor, daya beli serta konsumsi rumah tangga terindikasi melambat ke angka 4,7 persen.

Memasuki paruh 2026, kondisi perekonomian kian menantang akibat tekanan eksternal geopolitik Timur Tengah dan lonjakan inflasi domestik hingga 3,5 persen. Bank Dunia mencatat inflasi pangan yang menyentuh 3,3 persen turut dipengaruhi oleh dinamika cuaca serta lonjakan permintaan bahan baku menyusul dimulainya implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara luas. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
miskin