JAKARTA — Aktivitas vulkanik di Indonesia mencapai fase yang memprihatinkan. Sejumlah gunung berapi aktif tercatat mengalami letusan dalam waktu yang hampir bersamaan, mulai dari Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, hingga Gunung Sinabung di Sumatera Utara.
Fenomena meletusnya serangkaian gunung api ini memicu perhatian publik. Namun, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Rita Susilawati, menjelaskan bahwa letusan yang terjadi secara berbarengan ini tidak saling terhubung secara langsung.
"Lokasi Indonesia yang berada di sepanjang Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) dengan keberadaan 127 gunung berapi aktif membuat beberapa gunung sangat mungkin meletus pada hari yang sama tanpa adanya hubungan sistematis," jelas Rita Susilawati.
Meski letusan serentak di Indonesia merupakan karakter alami wilayah Ring of Fire, para ilmuwan dunia justru melayangkan peringatan keras. Bumi diperkirakan memiliki peluang satu banding enam untuk menghadapi letusan gunung berapi berskala raksasa pada abad ini jika manusia tidak segera bersiap.
Pakar iklim, Profesor Dr. Markus Stoffel, memperingatkan bahwa letusan dahsyat abad ini berpotensi memicu bencana iklim dahsyat yang mirip dengan letusan Gunung Tambora pada tahun 1815. Kala itu, Tambora memuntahkan 100 kilometer kubik gas, debu, dan batuan ke atmosfer yang menyebabkan suhu global anjlok drastis hingga menciptakan fenomena "tahun tanpa musim panas", pemicu kelaparan massal serta wabah penyakit yang menewaskan puluhan ribu jiwa.
Kondisi saat ini dinilai jauh lebih mengkhawatirkan. Menurut para ahli, letusan raksasa di abad ke-21 akan bertumpuk dengan krisis iklim yang sudah ada akibat ketergantungan manusia pada bahan bakar fosil.
"Dampaknya bisa jauh lebih buruk daripada tahun 1815. Dunia saat ini jauh lebih tidak stabil," tegas ilmuwan geologi, Dr. Michael Rampino. Hal senada diungkapkan oleh ahli vulkanologi, Dr. Thomas Aubry. Ia menyoroti bahwa dunia modern yang saling terhubung erat sangat rentan terhadap dampak lanjutan yang mematikan dan tak terprediksi akibat gangguan iklim ekstrem.
"Curah hujan ekstrem yang meningkat akibat perubahan iklim juga dapat memicu ledakan seperti 'bom uap' saat kelembapan meresap jauh ke dalam celah-celah di dekat gunung berapi aktif maupun pasif," ungkap Aubry.
Aubry merujuk pada studi tahun 2022 yang menemukan bahwa sekitar 716 gunung berapi di seluruh dunia—atau 58 persen dari total gunung api aktif di atas permukaan—dapat terpicu letusannya oleh curah hujan ekstrem. Kondisi ini meningkatkan risiko munculnya zaman es mini yang berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia. "Oleh karena itu, kami memperkirakan akan terjadi lebih banyak letusan di masa depan," pungkasnya. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co