Lahan Gambut Membara, Krisis Air Bersih Lumpuhkan Tim Pemadam Karhutla di Kalimantan dan Sumatra

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:04 WIB
Kondisi lahan di Desa Air Merah, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Kamis (3/9) usai pemadaman karhutla yang dilanjutkan pendinginan. (BPBD Jambi)
Kondisi lahan di Desa Air Merah, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Kamis (3/9) usai pemadaman karhutla yang dilanjutkan pendinginan. (BPBD Jambi)

 

JAKARTA – Musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerpa kawasan gambut di Pulau Kalimantan dan Sumatra kini berada pada kondisi yang kian memprihatinkan. Selain dikepung kobaran api dan kabut asap tebal, tim pemadam beserta warga lokal kini harus berhadapan dengan musuh utama di lapangan: krisis air bersih dan kekeringan ekstrem.

Ketiadaan pasokan air baku tidak hanya melumpuhkan proses pemadaman di area gambut yang haus air, tetapi juga memaksa warga pasrah menyaksikan lahan pertanian serta perkebunan mereka perlahan dilahap si jago merah. Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Belqis Habiba, mengungkapkan bahwa keparahan karhutla tahun ini merupakan salah satu yang terburuk sejak dirinya terjun langsung dalam penanganan kebakaran pada 2019 lalu. Di Kalimantan Barat dan sekitarnya, kekeringan telah mencapai tahap ekstrem hingga mengganggu pasokan air bersih harian masyarakat.

”Bahkan satu bulan saya di Kalimantan Barat itu air bersih tidak ada. Air yang ada itu adalah air asin, bahkan PDAM-nya pun asin,” ujar Belqis saat dikonfirmasi, Rabu (14/10).

Ia menjelaskan bahwa karakteristik lahan gambut membutuhkan pasokan air dalam jumlah raksasa untuk membasahi lapisan tanah terdalam. Sayangnya, alih fungsi lahan dan pembangunan kanalisasi yang masif telah mengalirkan air keluar dari ekosistem gambut. Alhasil, gambut menjadi sangat kering, rapuh, dan amat mudah terbakar.

Ketika titik api muncul, para relawan di lapangan sering kali tak berkutik karena tidak menemukan sumber air untuk disedot. Metode pemadaman manual seperti memukul api hanya efektif pada titik kecil, sementara efektivitas water bombing via udara pun merosot akibat tanah gambut yang terlalu dahaga.

Kondisi tak kalah kritis terjadi di Sumatra. Di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan, keterbatasan sarana dan minimnya jumlah personel pemadam membuat warga pemilik kebun karet harus berjuang mandiri dengan peralatan seadanya.

Tanpa adanya pasokan air yang memadai, warga terpaksa mengambil langkah spektakuler namun berisiko: membuat sekatan darurat setebal 1 hingga 2 meter di sekeliling kebun mereka dan membersihkan dedaunan kering. Langkah ini dilakukan semata-mata untuk memutus rantai material penyebar api seraya menunggu kobaran mendekat untuk dipukul secara manual.

”Akhirnya apa? Warga pasrah. Mereka hanya bisa membersihkan area di sekitar kebun agar ada jarak aman, sebab air memang tidak ada,” tambah Belqis.

 

Bencana karhutla kali ini tidak lagi sekadar krisis lingkungan, melainkan telah berkembang menjadi ancaman kemanusiaan yang bersifat multiplier effect.

Selain kehilangan mata pencaharian akibat kebun yang terbakar, masyarakat yang tinggal di pedalaman kini terisolasi dari akses kesehatan. Paparan ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) akibat asap tebal mengintai anak-anak dan lansia, sementara akses menuju puskesmas terdekat amat terbatas, begitu pula dengan ketersediaan masker medis.

Masyarakat dan relawan di lapangan kini mendesak adanya penanganan darurat yang tidak hanya fokus pada pemadaman udara, tetapi juga penyediaan logistik air baku serta bantuan medis cepat tanggap bagi warga terdampak di garis depan. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
karhutla