Dihantam Kenaikan BBM hingga Pemangkasan Anggaran, Sektor Pariwisata Desa Luan Paser Terjun Bebas

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:45 WIB
Kunjungan wisata Desa Luan, Paser, anjlok akibat kenaikan BBM, infrastruktur terbatas, dan efisiensi anggaran. Ekonomi warga ikut terdampak.(TOMI/PASER POS)
Kunjungan wisata Desa Luan, Paser, anjlok akibat kenaikan BBM, infrastruktur terbatas, dan efisiensi anggaran. Ekonomi warga ikut terdampak.(TOMI/PASER POS)

TANA PASER – Sektor pariwisata di Desa Luan, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, tengah menghadapi masa-masa sulit. Tingkat kunjungan wisatawan ke wilayah tersebut merosot drastis akibat melambungnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM), kondisi infrastruktur yang belum memadai, hingga efisiensi anggaran pemerintah yang berdampak luas.

Kepala Desa Luan, Ridwan Suwidi, mengonfirmasi lesunya aktivitas wisata yang kini berimbas langsung pada roda perekonomian warga lokal. Selama ini, geliat tempat wisata menjadi tumpuan masyarakat sekitar untuk meraup penghasilan melalui sektor perdagangan dan jasa.

"Kalau untuk objek wisata itu sendiri sangat drastis penurunannya. Efek dari harga BBM naik, kemudian infrastruktur belum begitu bagus, dan juga efisiensi anggaran ini terjadi di semua lini," kata Ridwan saat memberikan keterangannya pada Sabtu (8/8).

Mengingat pengelolaan objek wisata berada di bawah wewenang Dinas Pariwisata daerah, keterbatasan ruang fiskal pemerintah setempat secara otomatis menghambat keberlanjutan program pengembangan. Ridwan pun berharap stabilitas ekonomi segera pulih agar sektor pariwisata kembali mendapat perhatian penuh.

"Harapannya mudah-mudahan bisa stabil kembali. Dengan efisiensi anggaran ini, kami berharap ada penambahan anggaran dari pemerintah daerah untuk wisata," ujarnya. Meskipun aktivitas wisata saat ini belum memberikan kontribusi berupa Pendapatan Asli Desa (PADes), dampak putaran uangnya di tingkat masyarakat terbukti sangat vital. "Kalau dari segi wisata, untuk saat ini kami belum menerima penghasilan untuk PADes. Tetapi dari segi masyarakat, penghasilan dari wisata itu sudah sangat luar biasa," jelas Ridwan.

Di tengah ketidakpastian sektor wisata, Pemerintah Desa Luan berinisiatif menggali potensi ekonomi lain, mulai dari perkebunan, peternakan, perikanan, hingga galian batu gunung dan pasir. Sebagai langkah nyata, program ketahanan pangan berbasis peternakan ayam kampung dan petelur mulai digulirkan. "Skala kecil dulu karena kemarin kami membangun kandang, pengadaan bibit, pakan dan sebagainya. Ini salah satu potensi yang ada di desa," tutur Ridwan menjelaskan tahap awal peternakan 200 ekor ayam kampung tersebut.

Sementara untuk potensi galian, pihak desa telah menjajaki kemitraan dengan perusahaan swasta, meski masih menemui ganjalan. "Untuk sementara ini kami bekerja sama dengan perusahaan terkait batu gunung dan pasir, tetapi masih terkendala perizinan," ungkapnya.

Tantangan yang dihadapi Desa Luan kian berat seiring pemangkasan anggaran desa pada tahun 2026 yang mencapai 60 hingga 70 persen. Pemotongan drastis ini memaksa desa menunda berbagai rencana pembangunan, terutama akses jalan usaha tani dan jalan ekonomi yang amat dibutuhkan warga. "Untuk tahun 2026 ini pemotongan anggaran mencapai 60 sampai 70 persen. Sangat kami rasakan. Banyak masyarakat yang mengeluh terkait pembangunan di desa," keluh Ridwan.

Ia menegaskan bahwa perbaikan akses jalan membutuhkan investasi besar, namun dampaknya akan sangat berbanding lurus dengan kesejahteraan warga.

"Kalau struktur jalan yang kita bangun menjadi layak pakai, memang membutuhkan anggaran. Dengan adanya jalan yang baik, ekonomi masyarakat juga akan menjadi bagus," tegasnya. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
paser