Pagelaran Sang Askarya Kembali Guncang Penajam, Libatkan 200 Penari dari Usia PAUD hingga Dewasa

Faroq Zamzami • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 12:11 WIB
SEMARAK: Tarian dari Aceh dibawakan penari-penari usia SD jadi pembuka sajian Sang Askarya, Sabtu, 12 September 2026. FAROQ ZAMZAMI/PROKAL.CO
SEMARAK: Tarian dari Aceh dibawakan penari-penari usia SD jadi pembuka sajian Sang Askarya, Sabtu, 12 September 2026. FAROQ ZAMZAMI/PROKAL.CO

PROKAL.CO, PENAJAM-Mengulang kesuksesan tahun lalu, Pagelaran Sang Askarya, kembali dihelat di panggung seni di Alun-Alun Penyembolum, di depan Kantor Bupati Penajam Paser Utara (PPU), Sabtu (12/9/2026), mulai pukul 20.00 Wita.

Tahun kedua event digelar tambah meriah. Jika pada Sang Askarya tahun 2025 penari yang dilibatkan sebanyak 100-an orang, pada 2026 ini, jumlah penari bertambah dua kali lipat alias lebih 200-an.

Panggung pun dibuat lebih spektakuler dengan permainan lampu warna-warni yang lebih variatif, dan layar besar tepat di tengah panggung.

Baca Juga: Pagelaran Sang Askarya, Kolaborasi Seratus Penari Pukau Penonton di Alun-Alun Penyembolum Penajam

Penonton yang datang lebih banyak. Membeludak, memadati area depan panggung, sisi kiri dan kanannya.

Kondisi ini membuat akses keluar masuk saat pegelaran dihelat menjadi sulit saking padatnya manusia.

Event gelaran Sanggar Seni Borneo Benuo Taka (BBT) PPU ini menghadirkan ratusan penari cilik hingga remaja. Mereka membawakan beragam tarian dari sejumlah daerah di Indonesia.

Dibuka dengan tari-tarian daerah dari Pulau Sumatra. Diawali oleh puluhan bocah perempuan usia SD yang membawakan tarian dari Aceh.

Gerakan mereka lincah dan cepat, berbalut kostum dengan paduan warna dominan putih dan merah. Kemudian dilanjutkan dengan tarian piring oleh penampil yang berbeda, dan tarian lancang kuning.  

Setelah dari Sumatra, menyeberang ke
Pulau Jawa. Tarian dari Pulau Jawa diawali tari ondel-ondel khas Jakarta yang dipadu dengan kehadiran dua boneka ondel-ondel di sisi kiri dan kanan panggung.

Panggung kemudian secara bergantian menjadi titik sajian kesenian dari Pulau Sulawesi, Papua, dan tentunya Pulau Kalimantan. 

Founder Sang Askarya, Ary Febrian Masis, mengatakan gelaran kedua ini lebih semarak. Jumlah pelaku seni yang terlibat lebih banyak. Misalnya, untuk penari yang dilibatkan, tahun lalu 100-an penari, tahun ini dua kali lipat, jadi 200-an penari.

Baca Juga: Pagelaran Seni dan Gebyar UMKM Digelar di Alun-Alun Pemkab PPU

Para penari datang dari lintas usia, mulai dari usia PAUD hingga remaja, yang berbaur tanpa batasan usia di atas panggung.

“Di balik semaraknya acara ini, banyak tangan yang bekerja dan memberi dukungan. Kami ucapkan berterima kasih. Khususnya kepada Ibu Hetifah Sjaifudian, anggota DPR RI, Dapil Kaltim, pemerintah kabupatan, dan dukungan dari BBT family,” katanya saat membacakan sambutan. 

Hetifah dalam sambutanya yang ditayangkan di video di layar bagian tengah panggung mengaku, sangat mengpresiasi genearsi muda yang menggelar acara seni dan budaya ini.

“Kebudayaan bukan hanya menjaga warisan masa lalu, tapi memberi ruang kepada generasi muda untuk menunjukkan kreativitas mereka, dan menjaganya hingga masa depan,” katanya. 

TAHUN KEDUA: Alat musik tradisional Suku Paser, petep, dipukul saat pembukaan Sang Askarya, Sabtu, 12 September 2026. FAROQ ZAMZAMI/PROKAL.CO
TAHUN KEDUA: Alat musik tradisional Suku Paser, petep, dipukul saat pembukaan Sang Askarya, Sabtu, 12 September 2026. FAROQ ZAMZAMI/PROKAL.CO

Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Margono Hadi Sutanto, yang membacakan sambutan bupati, sekaligus membuka event ini, menyebut kegiatan ini menjadi ruang merawat identitas budaya, menumbuhkan identitas, hingga menggerakan ekonomi rakyat. 
Baca Juga: Pecah, Aksi Penari dari Sanggar Seni BBT Memukau Pengunjung Alun-Alun Penyembolum Penajam

“Semangat berkesenian seperti ini harus terus tumbuh di PPU. PPU sebagai gerbang IKN (Ibu Kota Nusantara) menyambut, dan memberi ruang seniman untuk terus berkarya. Ajang ini juga memperkuat kecintaan kita pada seni dan budaya,” katanya. 

Pembukaan event ditandai dengan pemukulan alat musik tradisional Suku Paser, petep, oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Margono Hadi Sutanto; Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) PPU, Safwana; Anggota DPRD PPU, Jamaluddin; dan Founder Sang Askarya, Ary Febrian Masis. (*)

Editor : Faroq Zamzami
borneo benuo taka sang askarya penajam hetifah sjaifudian