PROKAL.CO,PENAJAM-Petani di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) kini tengah berpacu dengan waktu.
Menjelang musim kemarau yang diprediksi tiba akhir Juni ini, percepatan penggarapan lahan tanam padi pada musim gadu atau musim tanam kedua menjadi prioritas utama.
Pasalnya, sistem pengairan lahan pertanian di PPU sebagian besar masih mengandalkan tadah hujan, dan hal itu menjadikan para petani sangat bergantung pada curah hujan yang ada.
Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten PPU, Andi Trasodiharto, menekankan pentingnya langkah ini.
“Musim gadu menghadapi kemarau, dan kami memminta kepada petani agar mempercepat garap lahan tanam padi,” kata Andi Trasodiharto, Selasa (17/6/2025).
Ditekankannya, keterbatasan infrastruktur irigasi, seperti bendungan atau bendung, menjadi tantangan utama yang dihadapi sektor pertanian di PPU, khususnya saat musim kemarau tiba.
Prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyatakan musim kemarau akan melanda Kaltim mulai akhir Juni hingga Agustus 2025, kata dia, semakin memperjelas urgensi ini.
Diungkapkannya lagi, bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) PPU menargetkan luas tanam padi pada musim gadu ini mencapai 7.508 hektare.
Hingga pekan kedua Juni 2025, sekitar 6.105 hektare lahan persawahan telah berhasil ditanami padi sejak bulan Mei.
“Ini berarti masih ada sekitar 1.700 hektare lahan yang menanti untuk digarap dan ditanami sebelum kemarau semakin intensif. Musim tanam gadu di PPU sendiri berlangsung dari bulan Mei hingga Juli 2025,” kata Andi Trasodiharto.
Dia mengatakan, sebelum memasuki musim gadu, petani di PPU baru saja merampungkan musim tanam pertama (Maret-Mei 2025) dengan hasil panen yang bervariasi.
Tercatat, total panen mencapai 24.500 ton gabah kering panen (GKP) dari 7.805 hektare lahan.
Meskipun rata-rata hasil panen petani di musim tanam pertama masih tergolong rendah, yakni sekitar 3,62 ton per hektare, ada secercah harapan.
“Beberapa petani telah berhasil menunjukkan potensi peningkatan signifikan, mampu mencapai hasil panen hingga enam ton per hektare. Hal ini mengindikasikan adanya ruang untuk perbaikan dan adopsi praktik pertanian yang lebih efektif,” urainya.
“Pencapaian panen pada musim tanam pertama ini juga berkontribusi pada stabilitas pangan daerah, dengan Bulog berhasil menyerap 5.300 ton GKP,” tambahnya.
Situasi ini, lanjut dia, menyoroti pentingnya diversifikasi strategi pengairan dan pengembangan infrastruktur pertanian yang lebih kokoh di PPU.
Kebergantungan pada tadah hujan membawa risiko besar, terutama dalam menghadapi perubahan iklim global yang semakin tidak menentu.
Edukasi dan pendampingan bagi petani untuk mengoptimalkan hasil panen, bahkan dalam kondisi tadah hujan, juga krusial untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani di daerah ini. (far)
ARI ARIEF
ari.arief@kaltimpost.co.id
Editor : Faroq Zamzami