PROKAL.CO, SAMARINDA – Belum reda jagat maya bahas Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud dengan mobil seharga Rp 8,5 milyar, kini viral di media sosial terkait gaya bicara Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur, Ananda Emira Moeis, saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai insiden tabrakan kapal terhadap Jembatan Mahakam dan Jembatan Mahakam Ulu menuai beragam tanggapan publik.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Mulawarman, Hairul Anwar yang akrab disapa Jody menilai fenomena tersebut merupakan hal yang wajar dalam dinamika politik dan komunikasi publik di era media sosial.
Menurutnya, saat ini hampir semua isu di Kaltim mudah menjadi perhatian publik karena sorotan terhadap daerah tersebut semakin besar. Ia menilai kondisi ini juga dipengaruhi oleh perkembangan media sosial dan praktik citizen journalism yang membuat potongan video atau pernyataan mudah viral.
“Sekarang ini apa pun bisa dipotong-potong lalu menjadi narasi yang ramai di media sosial. Semua orang punya kepentingan dan sudut pandang masing-masing,” kata Jody, Rabu 11 Maret 2026.
Ia menilai publik tidak hanya menilai substansi pernyataan seorang pejabat, tetapi juga cara penyampaiannya. Hal itu menurutnya menjadi tantangan bagi politisi yang bekerja di ruang publik.
“Legislatif memang harus belajar bahwa substansi itu penting. Tapi ada juga masyarakat yang melihat penampilan atau cara berbicara. Itu bagian dari pekerjaan politik karena mereka berhadapan langsung dengan publik,” ujarnya.
Meski demikian, Jody menilai hal yang paling penting adalah substansi dari pesan yang disampaikan. Selama substansi tetap ada dan menyangkut kepentingan publik, polemik terkait gaya komunikasi tidak akan terlalu berpengaruh dalam jangka panjang.
“Yang berbahaya itu kalau substansinya tidak ada dan penampilannya juga tidak baik. Kalau substansinya ada, sisanya tinggal soal jam terbang saja,” katanya.
Jody juga menanggapi kemungkinan bahwa viralnya gaya bicara Ananda di media sosial berkaitan dengan kritik DPRD terhadap pengelolaan alur pelayaran di Sungai Mahakam yang dinilai berulang kali menyebabkan insiden tabrakan kapal dengan jembatan.
Menurutnya, isu tersebut memang sudah lama menjadi perhatian masyarakat Kalimantan Timur.
“Mungkin saja ada kaitannya, mungkin juga tidak. Tapi yang disuarakan Ananda sebenarnya ada dalam pikiran banyak masyarakat Kaltim, yaitu soal kapal yang terus menabrak jembatan,” ujarnya.
Ia menilai kritik terhadap pengelolaan jalur angkutan batu bara dan aktivitas pelayaran yang melintas di bawah jembatan merupakan kepentingan publik. Karena itu, menurutnya, isu tersebut tidak akan hilang hanya karena pembawa pesan mendapat kritik atau framing negatif di media sosial.
“Kalau yang disuarakan adalah kepentingan masyarakat Kaltim, itu tidak akan berhenti hanya karena orang yang menyampaikan diframing negatif,” kata Jody.
Sebelumnya, potongan video wawancara Ananda Emira Moeis terkait insiden tabrakan kapal di Jembatan Mahakam dan Jembatan Mahakam Ulu viral di media sosial.
Video berjudul “Jembatan Mahulu tiga kali ditabrak, Legislator minta KSOP dan Pelindo bekerja lebih serius” menuai kritik di akun Instagram milik salah satu influencer berinisial R. Dalam unggahan tersebut, influencer itu menuliskan kritik terhadap kualitas pejabat di Kalimantan Timur.
Unggahan itu memicu perdebatan di media sosial dengan lebih dari 6 ribu komentar dan dibagikan lebih dari 1.800 kali.
Sementara itu, akun Instagram lain, juga mengunggah ulang video tersebut dan menyoroti respons publik, termasuk reaksi emoji kaget dari mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti.
Dalam video wawancara dengan wartawan, Ananda menegaskan bahwa dirinya tidak memprioritaskan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari aktivitas pelayaran di bawah jembatan. Ia menilai keselamatan masyarakat yang melintas di atas jembatan harus menjadi prioritas utama, sekaligus memastikan arus logistik tetap berjalan lancar.
Karena itu, ia meminta instansi yang memiliki kewenangan seperti KSOP dan Pelindo bekerja lebih serius dalam mengawasi aktivitas pelayaran di alur Sungai Mahakam.(*)
Editor : Indra Zakaria