SAMARINDA – Peta politik di DPRD Kalimantan Timur mendadak memanas sekaligus penuh teka-teki. Sikap Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) yang kini cenderung menarik diri dari wacana hak angket memicu tanda tanya besar. Sejumlah legislator PAN yang sebelumnya sempat memberikan lampu hijau, kini kompak memilih bungkam.
Langkah "tarik rem darurat" ini merupakan instruksi langsung dari DPW PAN Kaltim. Akibatnya, nama-nama beken di DPRD Kaltim seperti Sigit Wibowo, Baharuddin Demmu, M. Darlis Pattalongi, hingga Abdul Rahman Agus enggan memberikan komentar lebih jauh saat dikonfirmasi awak media.
Baharuddin Demmu, salah satu politisi senior PAN, secara halus mengarahkan awak media untuk berkomunikasi langsung dengan pimpinan fraksi. "Coba konfirmasi ke ketua fraksi (Sigit) karena dia yang komunikasi langsung dengan Ketua DPW PAN. Maaf ya," ujarnya singkat.
Setali tiga uang, Sigit Wibowo pun tidak memberikan keterangan mendalam dan meminta agar konfirmasi dilakukan kepada Ketua DPW PAN Kaltim, Erwin Izharuddin. Sebelumnya, Erwin beralasan bahwa perubahan sikap ini didasari faktor kehati-hatian agar pengawasan yang dilakukan tidak menjadi bumerang politik bagi partai.
Ketidakpastian sikap PAN ini berdampak langsung pada Partai NasDem. Pasalnya, kedua partai ini bernaung dalam satu fraksi gabungan di DPRD Kaltim. Ketua DPW NasDem Kaltim, Celni Pita Sari, mengakui bahwa pihaknya belum bisa mengambil sikap resmi terkait kelanjutan hak angket tersebut.
“Kita masih mau coba komunikasi dulu sama PAN-nya ya,” kata Celni. Hambatan komunikasi ini disebut Celni terjadi karena banyaknya anggota legislatif yang tengah menjalankan agenda kunjungan kerja (kunker). Selain itu, posisi NasDem dalam fraksi gabungan tersebut terbilang dilematis. Saat ini, PAN memiliki jumlah kursi yang lebih banyak satu angka dibandingkan NasDem.
Kondisi internal NasDem di legislatif Karang Paci (sebutan DPRD Kaltim) juga sedang dalam masa transisi. Celni menjelaskan bahwa NasDem saat ini hanya menyisakan dua orang di legislatif lantaran proses Pergantian Antar Waktu (PAW) antara Kamaruddin Ibrahim kepada Andi Burhanuddin Solong masih terus berjalan.
Hingga terjalin kesepahaman antara kedua partai dalam fraksi gabungan tersebut, NasDem dipastikan akan tetap bertahan pada posisi menunggu. “Setelah ada komunikasi dengan PAN, nanti baru bisa ambil keputusan,” pungkas Celni.
Publik kini tengah mengamati apakah wacana hak angket yang sempat menguat di awal ini akan berlanjut sebagai fungsi pengawasan yang tajam, atau justru meredup akibat perubahan konstelasi politik di internal fraksi. (*)
Editor : Indra Zakaria