PROKAL.CO– Puasa Ramadhan merupakan ibadah wajib yang menjadi pilar penting bagi setiap Muslim. Namun, di balik rutinitas bangun di dini hari, terdapat satu amalan utama yang sering kali dianggap remeh padahal menjadi kunci keberkahan ibadah, yakni niat sahur. Niat ini bukan sekadar formalitas pengantar makan, melainkan bentuk penguatan spiritual untuk menyambut puasa dengan kesadaran penuh.
Sahur sendiri secara harfiah adalah aktivitas makan atau minum yang dilakukan sebelum fajar menyingsing guna mempersiapkan fisik menjalani puasa. Dalam pandangan fiqih klasik, seperti yang tertuang dalam Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, sahur adalah sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Niat yang menyertainya berfungsi sebagai pembeda niat ibadah dengan sekadar menahan lapar untuk alasan kesehatan atau diet.
Keutamaan niat sahur sangatlah besar, salah satunya adalah sebagai manifestasi kesungguhan seorang hamba dalam menjalankan perintah Allah SWT. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa sahur sepenuhnya mengandung berkah, bahkan bagi mereka yang hanya sanggup meminum seteguk air. Keberkahan ini kian sempurna saat niat dilafalkan dengan tulus, sehingga mengundang shalawat dari para malaikat bagi mereka yang bersahur.
Bagi umat Muslim, terdapat dua cara dalam melafalkan niat. Pertama adalah niat harian yang dibaca setiap malam sebelum imsak dengan lafal: Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta’ala. Niat ini menegaskan komitmen untuk menunaikan kewajiban puasa pada esok hari semata-mata karena Allah Ta’ala.
Selain niat harian, beberapa ulama, termasuk dalam madzhab Maliki, memperbolehkan pembacaan niat untuk satu bulan penuh di awal Ramadhan sebagai langkah antisipasi jika seseorang lupa berniat di malam hari. Lafalnya adalah: Nawaitu shauma jami’i syahri ramadhani hadzihis sanati fardhan lillahi ta’ala. Meski telah berniat sebulan penuh, aktivitas sahur setiap pagi tetap sangat dianjurkan sebagai penguat ibadah harian.
Agar niat tersebut sah dan sempurna, penting bagi setiap Muslim untuk memperhatika cara melafalkannya. Niat harus dilakukan pada malam hari sebelum fajar terbit dalam keadaan sadar sepenuhnya. Sangat disarankan untuk tidak melafalkannya dalam kondisi mengantuk berat agar makna dari ucapan tersebut meresap ke dalam hati. Meskipun bahasa Arab lebih utama, melafalkan niat dalam bahasa Indonesia tetap diperbolehkan bagi yang belum fasih, asalkan dilakukan dengan penuh ketenangan dan tidak tergesa-gesa. (*)
Editor : Indra Zakaria