Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Langkah Berani di Jabal Thariq: Kisah Thariq bin Ziyad dan Lahirnya Al-Andalus

Indra Zakaria • 2026-02-21 11:00:00

Ilustrasi Thariq bin Ziyad mendarat di Andalusia. (AI)
Ilustrasi Thariq bin Ziyad mendarat di Andalusia. (AI)

PROKAL.CO– Di titik sempit di mana laut Mediterania bertemu dengan Samudra Atlantik, berdiri sebuah karang raksasa yang membisu. Namun, bagi sejarah peradaban Islam, karang itu adalah saksi bisu dari salah satu aksi militer paling nekat dan brilian yang pernah dilakukan manusia: pendaratan Thariq bin Ziyad pada tahun 711 Masehi.

Peristiwa ini bukan sekadar invasi militer biasa, melainkan awal dari babak baru sejarah Eropa yang kelak dikenal sebagai masa keemasan Al-Andalus, sebuah periode di mana ilmu pengetahuan, toleransi, dan seni tumbuh subur di tanah Spanyol dan Portugal selama hampir delapan abad.

Antara Laut dan Musuh

Legenda yang paling membekas dalam ingatan sejarah adalah ketika Thariq baru saja menginjakkan kaki di pantai Iberia dengan hanya membawa 7.000 prajurit. Menghadapi kenyataan bahwa jumlah mereka kalah jauh oleh puluhan ribu tentara Visigoth di bawah Raja Roderic, Thariq mengambil keputusan yang tak masuk akal bagi logika militer saat itu: membakar armada kapalnya sendiri.

"Di mana jalan pulang?" serunya di hadapan para prajurit yang tercengang melihat api melahap kapal-kapal mereka. "Laut ada di belakang kalian, dan musuh ada di depan kalian. Demi Allah, kalian hanya memiliki keberanian dan kesabaran."

Pesan itu jelas: tidak ada pilihan selain menang atau mati syahid. Tekad baja inilah yang kemudian mengantarkan mereka pada kemenangan mustahil di Pertempuran Guadalete, di mana kavaleri ringan Muslim yang gesit berhasil menghancurkan barisan berat pasukan Visigoth yang kaku.

Menariknya, jatuhnya semenanjung ini berlangsung sangat cepat bukan hanya karena kekuatan pedang. Masyarakat Iberia kala itu, terutama komunitas Yahudi dan petani Kristen, hidup di bawah penindasan berat Kerajaan Visigoth. Kehadiran pasukan Thariq dan kemudian gubernur Musa bin Nusair, justru disambut sebagai pembebasan.

Pasukan Muslim menawarkan sebuah kontrak sosial yang revolusioner di zamannya: kebebasan beragama, perlindungan hak milik, dan pajak yang jauh lebih adil melalui sistem jizyah. Hal ini membuat kota-kota besar seperti Cordoba, Seville, hingga ibu kota Toledo jatuh ke tangan Muslim hampir tanpa tumpah darah yang berarti.

Warisan yang Tak Lekang Waktu

Dalam waktu kurang dari tujuh tahun, hampir seluruh semenanjung berada di bawah kendali kekhalifahan. Namun, penaklukan ini hanyalah pembukaan. Di atas reruntuhan kerajaan yang korup, pasukan Muslim membangun sistem irigasi canggih, universitas-universitas besar, dan perpustakaan yang kelak menjadi mercusuar bagi Eropa yang saat itu masih terjebak dalam Zaman Kegelapan (Dark Ages).

Jatuhnya Iberia adalah bukti bahwa sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang memiliki pasukan terbesar, tetapi oleh mereka yang memiliki visi paling kuat. Karang yang kini kita sebut Gibraltar (dari kata Jabal Thariq) tetap berdiri tegak, mengingatkan dunia pada sosok panglima yang membakar kapal demi menjemput masa depan baru bagi peradaban dunia. (*)

Momen Kunci Penaklukan Iberia:

Tahun 711 M: Pendaratan Thariq bin Ziyad di Gibraltar.

Juli 711 M: Pertempuran Guadalete; Raja Roderic tewas.

Tahun 712 M: Kedatangan Musa bin Nusair dengan pasukan tambahan.

Dampaknya: Berakhirnya dominasi Visigoth dan dimulainya era Al-Andalus yang berlangsung hingga 1492 M.

Editor : Indra Zakaria