PROKAL.CO— Dalam catatan emas kekhalifahan abad ke-9, nama Alī ibn Yaḥyā al-Armanī muncul sebagai sosok panglima militer yang paling disegani di garis depan pertempuran melawan Kekaisaran Bizantium. Sebagai seorang keturunan Armenia, Ali mengukir karier gemilang mulai dari Gubernur Mesir hingga menjadi penguasa otonom di wilayah strategis Tarsus.
Ali menjabat sebagai amir Tarsus dari tahun 852 hingga 862 Masehi. Di bawah kepemimpinannya, Tarsus bertransformasi menjadi benteng pertahanan utama sekaligus basis penyerangan musim panas (ṣawāʿif) Kekhalifahan Abbasiyah melintasi Pegunungan Taurus menuju Anatolia. Ali tercatat memimpin serangkaian ekspedisi besar pada tahun 852, 853, 859, dan 860, serta menjadi tokoh kunci dalam proses pertukaran tawanan perang pada tahun 856.
Kehebatannya di medan perang membawa Ali kembali ke tanah kelahirannya saat diangkat menjadi Gubernur Armenia dan Albania Kaukasia pada akhir tahun 862. Namun, pengabdian sang panglima harus berakhir tragis. Pada musim gugur tahun 863, Ali gugur bersama 400 pasukan setianya dalam pertempuran sengit melawan pasukan Bizantium.
Kematian Ali, yang terjadi hanya sebulan setelah gugurnya emir Malatya, Umar al-Aqta, memicu kemarahan publik yang luar biasa di pusat pemerintahan Islam. Kerusuhan meledak di Baghdad dan Samarra ketika penduduk kota mengecam ketidakberdayaan pemerintah pusat dalam melindungi para komandan terbaiknya di garis depan.
Reputasi Ali ibn Yahya al-Armani tidak hanya diakui oleh kawan, tetapi juga oleh lawan. Sejarawan abad ke-10, al-Mas'udi, mencatat bahwa keberanian Ali begitu melegenda hingga potretnya dipajang di gereja-gereja Bizantium sebagai bentuk penghormatan atas ksatria paling tangguh yang pernah mereka hadapi. Warisan militer Ali kemudian diteruskan oleh putranya, Muhammad, yang juga sempat menjabat sebagai amir Tarsus pada periode berikutnya. (*)
Editor : Indra Zakaria