Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Pagelaran Seni Ranam Banua, Ketika Alam, Manusia, dan Budaya Bertemu di Panggung  

Faroq Zamzami • Jumat, 7 November 2025 - 15:08 WIB
INGATKAN: Pertunjukan Ranam Banua di Gedung Rizani Asnawi, Taman Budaya Kaltim di Samarinda, Rabu, 5 November 2025.
INGATKAN: Pertunjukan Ranam Banua di Gedung Rizani Asnawi, Taman Budaya Kaltim di Samarinda, Rabu, 5 November 2025.

PROKAL.CO, SAMARINDA-Pagelaran seni budaya bertajuk Ranam Banua hadir untuk warga Samarinda.

Event yang diselenggarakan LPP RRI Samarinda bekerja sama dengan Tirtonegoro Foundation ini menjadi simbol kolaborasi kreatif yang memadukan seni pertunjukan dengan pesan ekologis dan kemanusiaan.

Ajang ini dihelat pada Rabu, 5 November 2025 di Gedung Rizani Asnawi, Taman Budaya Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) di Samarinda mulai pukul 19.00 Wita.

Sebuah drama musikal tentang cinta, kritik sosial, dan keindahan budaya Kaltim, hingga sebuah kutukan menuntun mereka kembali ke alam, seni, dan warisan leluhur.

Melalui perpaduan tari, musik sape, puisi, dan teater, pertunjukan ini menafsir ulang hubungan manusia dengan lingkungannya.

Hewan-hewan endemik Kalimantan seperti enggang, beruang madu, bekantan, dan buaya hadir sebagai simbol alam yang resah, tapi juga sebagai penjaga nilai-nilai kebudayaan yang mulai pudar.

Dengan kemasan dramatik berdurasi 90 menit, Ranam Banua menghadirkan dunia surealis di jantung hutan Kalimantan, ketika manusia, hewan, dan alam berkelindan dalam kisah tentang kehilangan dan pencarian identitas.

Hewan-hewan endemik seperti enggang, beruang madu, bekantan, monyet, dan buaya menjadi alegori dari alam yang resah, memanggil manusia agar kembali menyadari akar budayanya.

Rahmad Azazi Rhomantoro, inisiator dan sutradara Ranam Banua dari Tirtonegoro Foundation, menuturkan bahwa pertunjukan ini lahir dari refleksi terhadap realitas sosial dan ekologis di Kaltim.

“Ranam Banua bukan sekadar pertunjukan, melainkan ajakan untuk mengenali kembali suara bumi dan jiwa budaya kita. Ketika manusia lupa asalnya, alam yang akan berbicara,” ungkap Rahmad Azazi.

Kolaborasi antara Tirtonegoro Foundation dan LPP RRI Samarinda ini melibatkan puluhan seniman muda lintas bidang. Ada penari, musisi, aktor, hingga perupa, yang berproses secara intens selama beberapa minggu.

Baca Juga: Zohran Mamdani, Politikus Keturunan Uganda-India yang Mengukir Sejarah sebagai Wali Kota Muslim Pertama New York

Elemen musik sape, puisi, dan teater musikal berpadu membentuk lanskap bunyi dan gerak yang menggugah.

Kepala RRI Samarinda dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif budaya ini.

“Melalui kegiatan seperti ini, RRI tidak hanya menjadi lembaga penyiaran, tetapi juga ruang perjumpaan kultural yang menghidupkan kembali semangat gotong royong dalam seni dan kebudayaan,” ujarnya.

Pertunjukan ditutup dengan adegan reflektif bertema Simfoni Hitam yang menggambarkan titik balik kesadaran manusia terhadap kerusakan alam dan pentingnya harmoni baru.

Sorotan cahaya dan visual videotron yang dipadukan dengan musik live menghadirkan atmosfer teatrikal yang kuat dan menyentuh.

Melalui Ranam Banua, Tirtonegoro Foundation dan LPP RRI Samarinda mempertegas komitmen bersama untuk menjadikan kebudayaan sebagai ruang dialog dan pemulihan antara manusia, alam, dan nilai-nilai luhur yang menjadi jiwa Kaltim. (*)

Editor : Faroq Zamzami
#pagelaran seni budaya #samarinda #kaltim #rri