SAMARINDA – Jembatan Mahulu kini tengah berada dalam pantauan ketat tim teknis. Setelah rentetan insiden penabrakan tiang pengaman yang terjadi beberapa kali dalam dua bulan terakhir, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kaltim akhirnya menggelar uji beban dinamis pada Sabtu (17/1/2026).
Langkah ini diambil untuk menjawab kekhawatiran publik mengenai integritas struktur jembatan yang menjadi jalur vital di Samarinda tersebut.
Deteksi "Luka Dalam" dengan Teknologi NDT
Tim teknis tidak hanya melihat kondisi fisik luar, tetapi juga melakukan pemeriksaan mendalam menggunakan metode Non-Destructive Test (NDT). Metode ini bertujuan untuk mendeteksi retakan atau kerusakan struktur yang mustahil dilihat secara kasat mata tanpa merusak elemen jembatan.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Kaltim, Muhammad Muhran, menjelaskan bahwa semua keputusan terkait masa depan jembatan ini harus berpijak pada data teknis yang akurat.
“Pengujian dilakukan agar keputusan berdasarkan data teknis. Untuk sekarang hasilnya masih data sementara yang belum bisa disimpulkan. Kemungkinan seminggu ke depan sudah ada hasilnya,” ujar Muhran.
Hanya Kendaraan Ringan yang Boleh Melintas
Meskipun hasil kajian teknis belum sepenuhnya rampung, akses jembatan mulai dibuka secara terbatas untuk masyarakat. Namun, ada aturan main yang ketat: kendaraan berat dilarang melintas. Hanya kendaraan dengan bobot maksimal delapan ton yang diizinkan menggunakan jalur ini.
Pembatasan ini dilakukan sebagai tindakan preventif sambil menunggu hasil pengelolaan data struktur dinamis rampung dikerjakan oleh tim ahli. Kesungguhan dalam memeriksa keamanan jembatan ini dibuktikan dengan keterlibatan tenaga ahli konsultan struktur dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Akhmad Aminullah. Pengujian kali ini menggunakan sensor accelerometer untuk merekam getaran dan frekuensi alami jembatan.
Nantinya, data getaran terbaru akan dibandingkan dengan data frekuensi alami jembatan saat pertama kali dibangun. Perbandingan ini akan menunjukkan seberapa besar perubahan perilaku struktur akibat tabrakan-tabrakan tersebut.
“Data tersebut akan menjadi penentu tingkat keamanan struktur jembatan Mahulu untuk dilalui kendaraan berat pascainsiden penabrakan. Kalau hasilnya (pergeseran) kurang lebih 5 persen, berarti masih masuk dalam kategori aman,” jelas Akhmad Aminullah.
Hasil akhir dari uji struktur dinamis ini nantinya akan menjadi dasar tunggal bagi otoritas terkait untuk menentukan apakah diperlukan rekayasa lalu lintas permanen atau langkah perbaikan teknis tambahan demi menjamin keselamatan pengguna jalan. (*)
Editor : Indra Zakaria