Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Terkendala Lahan, Kolam Retensi Sempaja Belum Berfungsi Maksimal Menahan Banjir

Redaksi Prokal • 2026-01-22 15:45:00
MENUNGGU PEMBEBASAN. Kondisi pembangunan kolam retensi Sempaja. (MELI/SAPOS)
MENUNGGU PEMBEBASAN. Kondisi pembangunan kolam retensi Sempaja. (MELI/SAPOS)

SAMARINDA – Harapan warga Sempaja untuk segera terbebas dari genangan air hujan nampaknya masih harus tertunda. Kolam retensi yang dibangun di kawasan tersebut hingga kini belum dapat berfungsi optimal karena air yang masuk ke kolam belum memiliki saluran pembuangan atau outlet. Hal ini disebabkan oleh pembangunan saluran pembuangan yang masih terkendala sengketa dan urusan pembebasan lahan milik warga.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Kota Samarinda, Dedy Sumbarwadana, menjelaskan bahwa meskipun pembangunan fisik kolam retensi telah menyelesaikan dua tahap, namun tahap ketiga yang krusial baru direncanakan pada tahun 2026. Pekerjaan pada tahap lanjutan ini mencakup penyambungan polder menuju saluran drainase utama yang nantinya berfungsi mengalirkan air ke Sungai Karang Mumus. Tanpa adanya outlet tersebut, kolam saat ini hanya berfungsi sebagai bak penampungan sementara yang kapasitasnya sangat terbatas.

Masalah utama yang dihadapi di lapangan adalah jalur saluran keluar yang direncanakan harus melewati tanah warga. Saat ini, kepastian mengenai kepemilikan dan luasan lahan tersebut masih dalam tahap klarifikasi oleh tim Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) bersama Badan Pertanahan Nasional (BPN). Dedy menegaskan bahwa jika jalur tersebut memang sah milik warga, maka pemerintah harus menempuh prosedur pembebasan lahan terlebih dahulu.

Setelah status kepemilikan lahan terang benderang, proses akan berlanjut pada tahap penilaian oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) untuk menentukan besaran ganti rugi yang layak. Jika seluruh tahapan administrasi ini berjalan lancar, pekerjaan fisik ditargetkan baru bisa dimulai sekitar bulan Juni melalui proses tender terbuka.

Kondisi ini membuat sistem pengendalian banjir di sekitar Simpang Tiga Sempaja belum bekerja sesuai rencana. Selama saluran pembuangan belum terbangun, air hujan yang masuk ke kolam akan terus tertahan di dalam polder. Dedy mengingatkan bahwa pada saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi, kapasitas kolam retensi tersebut berpotensi penuh dan tidak sanggup lagi menampung kiriman air hujan karena tidak adanya sirkulasi air yang keluar. (*)

Editor : Indra Zakaria