SAMARINDA – Awal tahun 2026 menjadi tantangan bagi stabilitas ekonomi di Kalimantan Timur seiring dengan menguatnya tekanan harga di wilayah ini. Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur melaporkan bahwa inflasi tahunan pada Januari 2026 menembus angka 3,76 persen secara year on year. Dari data tersebut, Kota Samarinda mencatatkan diri sebagai daerah dengan laju kenaikan harga tertinggi di Benua Etam.
Statistisi Ahli Madya BPS Kaltim, Ariyanti Cahyaningsih, mengungkapkan bahwa capaian inflasi pada Januari ini menunjukkan tren kenaikan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Hal ini terlihat dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang merangkak naik ke posisi 109,84 dari sebelumnya 105,86 pada Januari 2025. Kenaikan harga ini terpantau terjadi di hampir seluruh kelompok pengeluaran masyarakat.
Dalam rincian data empat kabupaten dan kota yang menjadi indikator penghitungan IHK, Samarinda berada di posisi puncak dengan inflasi mencapai 4,33 persen. Sementara itu, Penajam Paser Utara mencatatkan inflasi terendah di level 2,75 persen. Kondisi ini menunjukkan pergeseran tren wilayah, mengingat pada bulan sebelumnya, yakni Desember 2025, Kabupaten Berau-lah yang memegang rekor inflasi tertinggi di Kalimantan Timur.
Meski angka tahunan terlihat cukup tinggi, BPS mencatat bahwa tekanan harga secara bulanan masih relatif terkendali dengan angka inflasi hanya sebesar 0,04 persen. Faktor utama yang memicu kenaikan inflasi tahunan ini adalah lonjakan harga pada kelompok pengeluaran vital, terutama sektor perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, serta biaya perawatan pribadi dan jasa lainnya. (*)
Editor : Indra Zakaria