SAMARINDA, PROKAL.CO – Seiring berkembangnya era modern, jasa digital kian menjamur. Jasa ini terbukti membantu berbagai individu dengan berbagai kebutuhan yang menuntut dengan memanfaatkan teknologi serta keahlian spesifik. Sebut saja jasa penulisan, copywriting sampai dengan desain grafis serta editing. Namun, jasa membuat puisi bukan sesuatu yang wajar di antara jasa-jasa tersebut.
Jasa ini bukan jasa yang sering ditemui khayalak umum, apalagi di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Di jantung ibukota Benua Etam ini, terdapat jasa membuat puisi—bertajuk ‘Ngamen Puisi’ yang diinisiasi seorang putra daerah bernama Muhammad Akmal Firdaus. Pria asli Kabupaten Berau kelahiran tahun 1999 ini menggaungkan Ngamen Puisi selama satu bulan terakhir di Kota Samarinda, dengan melakukan ‘pop up’ di kafe-kafe Kota Tepian.
Kepada awak media Prokal.co, Firdaus yang dikenal dengan nama pena ‘Kristal Firdaus’ ini menceritakan awal mula ia menghadirkan Ngamen Puisi bagi masyarakat Samarinda. Seorang penulis bernama Theoresia Rutme yang menulis puisi secara langsung di ruang publik memotivasinya. Selain itu, Ngamen Puisi ini juga menjadi ajang Firdaus mengasah kemampuannya menulis.
“Jadi beliau (Theoresia Rutme) membuat puisi dengan mengetik nama orang, lalu merangkai puisi pendek tentang mereka. Dari situ saya juga sering menulis puisi-puisi singkat di Instagram, dan responsnya cukup seru. Saya juga melihat praktik serupa di luar negeri, ada yang menulis puisi di taman-taman, merespons orang atau situasi di sekitarnya,” cerita Firdaus.
Tak, tak, ting, srak. Begitu lah suara yang bergema di kafe Koga, tempat saya bertemu dengan Kristal Firdaus hari Minggu, 8 Februari lalu saat menggunakan jasa ngamen puisinya. Bermodalkan mesin tik jadul warisan kakeknya, lapak kecil dan kecintaannya terhadap sastra. Firdaus membawa cintanya terhadap sastra kepada banyak orang dengan jasa menulis puisi ini.
Tidak memakan waktu lama, Firdaus memulai jasa ini dengan mengajak konsumennya bercerita. “Apa yang diinginkan dalam puisi ini? Apa yang ingin diceritakan? Apa yang ingin disampaikan?”, dan jika konsumen tidak tahu apa yang ingin diceritakannya—Firdaus juga menyiapkan 78 pertanyaan yang dapat dipilih konsumen.
Mengikuti prosesi bercerita hingga puisi selesai, 20 menit berlalu untuk menghasilkan sebuah karya puisi dari cerita personal konsumen. Saya meminta Firdaus untuk membuat puisi untuk pacar saya. Proses tersebut terasa sangat intim, Firdaus melakukannya secara bersemuka, perlahan-lahan mengajak konsumen untuk membuka cerita—yang kemudian secara terampil dirangkainya menjadi sebuah puisi.
Unik namun menakjubkan, cerita singkat yang saya ceritakan ke Firdaus tidak sampai 10 menit namun bisa menghasilkan empat bait puisi dalam secarik kertas. Ketika saya tanya, apakah memang secepat ini? Ia mengaku bahwa semua tergantung konsumen. Semakin lama konsumen bercerita, maka semakin ciamik puisi tersebut.
“Pertama kali saya ngamen puisi itu di Tenggarong sekitar bulan Mei 2025 di kegiatan Pasar Petang Ladaya. Dari situ pelan-pelan saya mulai rutin tampil di ruang publik,” ujar Firdaus Ketika ditanya kapan mulai ngamen puisi.
Firdaus tidak mematok harga untuk sebuah puisi, bagi seluruh konsumen ia hanya meminta agar bayar seikhlasnya. Karena baginya, puisi adalah media penghubung jiwa. Banyak orang menganggap puisi itu berat, sulit, dan hanya untuk kalangan tertentu. Padahal, puisi dibuat untuk manusia.
Dan lewat Ngamen Puisi, Firdaus ingin membuat puisi lebih ramah, lebih dekat dengan orang-orang. Karena ia meyakini semua orang berhak mendapatkan puisi, semua orang layak didengarkan. Di situ lah puisi menjadi ruang pertemuan—ruang aman—di mana orang datang, bercerita, dan saling mendengar.
“Ketika saya ngamen puisi, saya datang tanpa ekspektasi uang. Saya datang untuk belajar, untuk mendengar. Fokusnya tetap pada proses bertemu manusia dan mendengar cerita mereka,” tegasnya.
Sastra Sebagai Jembatan Jiwa Manusia
Sastra memang menjadi hal penting dalam kehidupan Firdaus. Ketertarikannya mulai tumbuh saat ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) di Berau. Kala itu, ia tidak aktif di panggung—melainkan di bagian produksi, desain, dan penulisan. Minatnya di sastra ini kemudian meningkat lagi setelah membaca novel Supernova karya Dee Lestari.
Waktu terus berjalan hingga tiba saatnay Firdaus memasuki perguruan tinggi. Ia menimba ilmu sebagai mahasiswa Universitas Mulawarman (Unmul), saat kuliah ini ia mulai banyak membaca puisi karya Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, dan penyair-penyair lain. “Saya juga bertemu komunitas menulis, saling bertukar bacaan, dan tumbuh bersama,” lanjutnya.
Karya sastra Firdaus telah terpatri dalam sebuah buku maupun zine, salah satu karya terkenalnya adalah “menidurkan Bahaya”. Sebuah buku berisikan 59 puisi yang diciptakan Firdaus dan diterbitkan Penerbit Velodrom. Ia juga telah terlibat di beberapa antologi. Ke depan, ia ingin menerbitkan buku kedua, kumpulan cerpen serta kumpulan zine bersama rekanan penulisnya.
Kiprah Firdaus dalam dunia sastra juga mengantarkannya terpilih sebagai satu dari tujuh penulis yang lolos seleksi International Makassar Writers Festival (IMWF) 2025. Ia menjadi satu-satunya perwakilan dari Pulau Kalimantan, menyisihkan lebih dari 250 pendaftar dari seluruh Indonesia. Dari dunia sastra ini juga, ia yakin sastra dapat menjembatani jiwa antar manusia dalam bentuk interaksi maupun puisi.
Dari Ngamen Puisi, ia percaya bahwa stigma “Lelaki tidak bercerita” itu dapat dilunturkan. Sastra dapat menghubungkan, mendengarkan dan menceritakan. Serta menjadi alat kontemplasi jiwa, yang menjadi resonansi dalam hidup. Untuk itu, Firdaus mengajak kaum pemuda untuk terus memperkaya wawasan sastra mereka/
Dan semuanya berawal dari membaca. Membaca apa pun, dari buku, cerita orang, berita. Lantasan, membaca itu melunakkan diri, membuka imajinasi, dan memperkenalkan diri pada kemungkinan-kemungkinan lain.
“Lewat sastra, kita belajar mendengar, membayangkan, dan memahami manusia lain. Itulah kenapa sastra penting. Agar kita tetap terhubung sebagai manusia,” tutup Firdaus. (moe)
Editor : Indra Zakaria