Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Taman Mewah Rp34 Miliar Balai Kota Samarinda: DPRD Minta Bisa Diakses Warga

Redaksi Prokal • 2026-03-05 08:30:00

Komisi III DPRD Samarinda saat melakukan tinjauan di Taman Balai Kota. (MELI/SAPOS)
Komisi III DPRD Samarinda saat melakukan tinjauan di Taman Balai Kota. (MELI/SAPOS)

 


SAMARINDA – Transformasi drastis lahan parkir dan tanah kosong di pusat pemerintahan Kota Samarinda menjadi sebuah taman megah kini tengah menjadi buah bibir. Proyek prestisius senilai total Rp34,6 miliar tersebut telah menyulap kawasan Balai Kota menjadi area hijau nan estetik, lengkap dengan jembatan pedestrian, jalur ramp, hingga ornamen ukiran mewah.

Namun, di balik kemegahannya, muncul riak pertanyaan dari masyarakat: apakah fasilitas mahal ini hanya akan menjadi "singgasana" eksklusif bagi para pejabat, ataukah benar-benar akan dibuka untuk rakyat?

Besarnya anggaran yang digelontorkan dalam dua tahap pembangunan sejak tahun 2024 ini menuai sorotan tajam dari parlemen. Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar, secara tegas menyatakan bahwa dengan nilai investasi yang fantastis, taman tersebut wajib memberikan asas manfaat yang luas bagi warga Samarinda. Menurutnya, keberadaan ruang pertemuan penting di dalam kawasan tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk memagari akses publik. Baginya, masyarakat berhak menikmati estetika dan kenyamanan fasilitas yang dibangun menggunakan uang negara tersebut.

Di sisi lain, fakta di lapangan menunjukkan bahwa hingga saat ini gerbang taman belum dibuka secara resmi. Pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Hendra Irawan, menjelaskan bahwa secara fisik jembatan, area parkir kapasitas ratusan kendaraan, hingga lanskap telah rampung 100 persen. Kendati demikian, aset tersebut masih dalam masa pemeliharaan dan belum diserahterimakan sepenuhnya kepada Sekretariat Daerah Kota Samarinda sebagai pengelola utama.

Masalah keamanan juga menjadi batu sandungan serius yang membuat pihak otoritas masih enggan membuka akses secara bebas. Belum juga diresmikan, taman mewah ini sudah menjadi sasaran empuk pencuri kabel yang merusak infrastruktur pendukungnya. Alhasil, pengawasan ketat kini diberlakukan sementara waktu. Publik kini menanti dengan antusias, kapan kiranya "paru-paru kota" senilai puluhan miliar ini akan benar-benar terbuka lebar, membuktikan bahwa pembangunan di Samarinda memang ditujukan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh warganya, bukan sekadar pajangan di balik tembok kekuasaan. (*)

Editor : Indra Zakaria