SAMARINDA — Kawasan Polder Air Hitam yang seharusnya menjadi area pengendali banjir kini justru menyisakan ironi bagi warga di sekitarnya. Selama empat bulan terakhir, sejumlah warga di Kecamatan Samarinda Ulu harus berdamai dengan genangan air yang tak kunjung surut dari halaman rumah mereka, meski hujan telah lama berhenti.
Kondisi ini diduga kuat akibat lumpuhnya sistem drainase di pemukiman tersebut. La Sugana (43), salah satu warga terdampak, mengungkapkan bahwa parit yang ada saat ini sudah tidak berfungsi normal karena dipenuhi lumpur dan endapan sedimen yang tebal.
"Kurang lebih sudah empat bulan halaman rumah kami sering terendam air. Surutnya sangat lama karena saluran air di sini tidak berfungsi dengan baik. Paritnya ada, tapi dipenuhi lumpur sehingga air tertahan," keluh Sugana, Minggu (8/3/2026).
Penyebab utama penumpukan sedimen ini diduga berkaitan erat dengan aktivitas pematangan lahan di sekitar kawasan Polder. Setiap kali hujan turun, material tanah dari area proyek terbawa aliran air dan menyumbat gorong-gorong serta parit warga. Akibatnya, air yang seharusnya mengalir ke pembuangan akhir justru meluap dan "parkir" di halaman rumah warga dalam waktu yang lama.
Warga merasa keluhan mereka selama ini seperti tidak kasat mata bagi otoritas terkait. Minimnya tindakan nyata di lapangan memicu kekhawatiran baru, terutama terkait ancaman kesehatan lingkungan seperti perkembangbiakan nyamuk dan bibit penyakit akibat air yang tergenang statis.
Merespons jeritan warga tersebut, Lurah Air Hitam, Shinta Rizki Delvinda, menyatakan komitmennya untuk segera melakukan peninjauan langsung ke lokasi guna memetakan tingkat kerusakan drainase. "Kami akan turun ke lapangan untuk mengecek langsung kondisi drainase dan genangan yang terjadi di sekitar Polder Air Hitam," ujarnya.
Pihak kelurahan berjanji tidak akan tinggal diam dan akan segera berkoordinasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis setelah hasil tinjauan lapangan didapatkan.(*)
Editor : Indra Zakaria