Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda mengeluarkan peringatan dini terkait perubahan pola cuaca di Kalimantan Timur yang mulai menunjukkan tren mengering. Setelah intensitas hujan yang mulai menurun sejak April, wilayah ini diprediksi segera memasuki masa peralihan menuju musim kemarau panjang.
Kepala BMKG Samarinda, Reza Arfian Noor, menjelaskan bahwa penurunan curah hujan akan semakin terasa pada bulan Mei dengan kategori rendah hingga menengah. Kondisi ini merupakan indikasi awal pergeseran musim yang akan meluas secara bertahap.
“Memasuki Mei, hujan mulai berkurang dan cenderung berada pada sifat bawah normal hingga normal,” ujar Reza saat memaparkan gambaran cuaca di Kaltim.
Menurut data BMKG, pada bulan Juni diperkirakan sekitar 40 persen wilayah Kalimantan Timur sudah memasuki musim kemarau, di mana hari tanpa hujan akan menjadi lebih dominan. Kondisi kering ini diprediksi akan terus meluas pada Juli hingga mencapai puncaknya pada Agustus mendatang.
"Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, dengan sekitar 90 persen wilayah berada dalam kondisi kering," jelasnya.
Kondisi tersebut membawa risiko serius, terutama terkait potensi kekeringan serta meningkatnya ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Selain itu, adanya potensi El Nino lemah pada pertengahan tahun juga dikhawatirkan akan memperkuat dampak kekeringan di wilayah ini.
Terkait maraknya istilah "El Nino Godzilla" yang sempat beredar di media sosial, Reza memberikan klarifikasi tegas bahwa istilah tersebut tidak dikenal dalam kajian ilmiah meteorologi.
“Dalam kajian BMKG, El Nino hanya diklasifikasikan berdasarkan intensitasnya, yaitu lemah, sedang, dan kuat. Tidak ada istilah lain di luar itu,” tegas Reza.
Dengan durasi kemarau yang diperkirakan berlangsung selama tiga hingga empat bulan, BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk segera melakukan langkah mitigasi. Penghematan penggunaan air bersih, penyesuaian pola tanam, serta kesiapsiagaan penuh terhadap potensi api di lahan terbuka menjadi prioritas utama dalam menghadapi puncak kemarau tahun ini. (*)
Editor : Indra Zakaria