Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

"Masa Gara-gara Sepatu Meninggal?" Plt Kadisdik Kaltim Berang, Minta Guru BK Tak 'Tidur'

Redaksi Prokal • Senin, 4 Mei 2026 | 23:02 WIB
Plt Kepala Disdikbud Kaltim, Armin.
Plt Kepala Disdikbud Kaltim, Armin.

 
SAMARINDA – Suasana duka yang menyelimuti SMKN 4 Samarinda atas kepergian Risky Mandala rupanya menyisakan tanda tanya besar sekaligus sorotan tajam dari otoritas pendidikan. Kabar bahwa sang siswa meninggal dunia akibat infeksi luka dari sepatu yang kekecilan memicu reaksi keras dari Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim, Armin.

Saat pertama kali mendengar kabar tersebut, Armin tak mampu menyembunyikan rasa sangsinya. Baginya, alasan "sepatu kekecilan" sebagai pemicu hilangnya nyawa seorang pelajar terdengar sangat ironis di tengah masifnya anggaran pendidikan.

"Sepatunya kekecilan? Gara-gara sepatu kekecilan meninggal? Masa sih gara-gara sepatu meninggal?" cetus Armin dengan nada sangsi saat memberikan keterangan kepada awak media, Minggu (3/5). Namun, setelah memahami bahwa luka lecet akibat sepatu tersebut memicu infeksi fatal yang menjalar ke tubuh korban, nada bicaranya berubah menjadi penyesalan yang mendalam. Armin menegaskan bahwa di era sekarang, persoalan ekonomi seperti tidak mampu membeli sepatu seharusnya tidak lagi menjadi "vampir" bagi masa depan siswa di Kalimantan Timur.

"Mestinya kalau sepatu kekecilan, disampaikan ke sekolah atau orang tua. Kita ada dana PIP, ada dana BOSDA, ada dana BOSNAS. Kalau hanya satu-dua anak, mestinya kita bisa bantu," tegasnya dengan raut wajah serius. Bahkan, Armin menyatakan siap turun tangan secara personal jika memang ada hambatan birokrasi dalam penyaluran bantuan di tingkat sekolah. "Saya pun siap membantu kalau dia ngomong ke kantor. Sayang banget kalau anak seperti itu dibiarkan hanya karena tidak punya sepatu atau baju," bebernya lagi.

Kejadian tragis ini menjadi pemantik bagi Disdikbud Kaltim untuk melakukan evaluasi total terhadap sistem pengawasan internal di sekolah-sekolah. Armin menuding ada mata rantai komunikasi yang putus antara siswa dan tenaga pendidik di lapangan. Target utamanya adalah peran Guru Bimbingan Konseling (BK) dan wali kelas yang dianggap kurang peka terhadap kondisi riil anak didik mereka.

"Itu tugasnya guru BK. Saya pertanyakan, guru BK tahu tidak kondisi setiap anak? Dan wali kelas juga. Jangan-jangan selama ini sekolah tidak pernah tahu kondisi anaknya karena anak tidak terbuka," ungkap Armin dengan nada menyindir.

Ia berharap insiden memilukan ini menjadi alarm keras bagi seluruh institusi pendidikan di Bumi Etam. Armin memimpikan sekolah bukan sekadar tempat mengejar nilai akademik, melainkan ruang aman bagi siswa untuk mengadu. "Sekolah itu harus jadi second home bagi anak. Harus nyaman agar anak bisa curhat ke gurunya. Kalau tidak bisa curhat ke sekolah, curhatlah ke Dinas. Secara pribadi pun, saya akan bantu," pungkasnya. (*)

Editor : Indra Zakaria
#armin