PROKAL.CO, SAMARINDA - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda memastikan insiden tumpahan minyak kelapa sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) akibat truk tangki terguling di Jalan Wahid Hasyim, Samarinda Utara, tidak menyebabkan pencemaran serius di aliran sungai sekitar lokasi.
Kepala DLH Samarinda, Suwarso mengatakan pihaknya langsung menurunkan tim pengendali lingkungan sehari setelah kejadian untuk melakukan pengecekan di lokasi kecelakaan hingga aliran drainase menuju Sungai Karang Mumus.
“Informasi itu cepat disampaikan kepada kami, sehingga keesokan paginya tim pengendali lingkungan dari bidang pencemaran langsung menuju lokasi, baik di titik kecelakaan maupun lokasi aliran air di daerah Sempaja,” ujar Suwarso saat diwawancarai wartawan hari Rabu kemarin.
Dari hasil pengecekan lapangan, DLH menemukan bahwa tumpahan CPO telah bercampur dengan aliran air sehingga tidak terindikasi menimbulkan pencemaran berat di sungai.
“Ketika dicek ke sungai itu sudah menyebar dan menyampur dengan air sehingga dapat diindikasikan tidak terjadi pencemaran di sungainya,” katanya.
Selain memeriksa kondisi air, tim DLH juga melakukan pemantauan terhadap habitat ikan di sepanjang aliran drainase hingga anak Sungai Karang Mumus. Hasilnya, tidak ditemukan adanya ikan mati akibat insiden tersebut.
“Teman-teman juga mengecek beberapa ikan yang di sungai tersebut. Kehidupan habitat ikan di situ juga tidak ada ikan yang mati, baik dari titik aliran air di kecelakaan tangki maupun di aliran anak Sungai Karang Mumus termasuk yang di Sempaja dekat Hotel Atlet dan PDAM Posko 2,” jelasnya.
Meski demikian, Suwarso mengaku belum dapat menjelaskan secara rinci terkait kandungan kimia CPO yang tumpah ke drainase.
“Kalau tanya detail tentang kimianya saya nggak tahu,” ujarnya.
Sebelumnya, warga Samarinda dihebohkan dengan perubahan warna aliran drainase di sepanjang Jalan Wahid Hasyim menjadi oranye pada Rabu (6/5/2026) malam. Warna tersebut berasal dari tumpahan CPO dari truk tangki bernomor polisi BK 8330 FK yang terguling.
Tumpahan minyak sawit itu sempat mengalir hingga ke kawasan Sungai Karang Mumus di sekitar GOR Madya Sempaja dan memicu kekhawatiran masyarakat terkait potensi pencemaran lingkungan serta dampaknya terhadap kualitas air sungai di kawasan perkotaan Samarinda. (*)
Editor : Indra Zakaria