PROKAL.CO, SAMARINDA - Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus mematangkan pengoperasian insinerator sebagai solusi pengelolaan sampah berbasis termal di sejumlah titik di kota itu. Saat ini, sebanyak 10 unit insinerator yang tersebar di 9 lokasi masih dalam tahap uji coba.
Plt Kepala DLH Samarinda, Suwarso, mengatakan pengembangan insinerator tetap berjalan dan sebagian fasilitas telah selesai dibangun. Menurutnya, penggunaan sistem termal menjadi salah satu alternatif penanganan sampah di Samarinda.
“Insinerator sebetulnya isu pengelolaan sampah dengan menggunakan sistem termal. Kalau skala besar nanti yang akan dibangun P-Cell di TPS Sambutan. Kalau skala kecil ya seperti insinerator yang sudah dibangun di Kota Samarinda,” kata Suwarso saat diwawancarai wartawan hari Rabu kemarin.
Ia menjelaskan, saat ini DLH masih melakukan pengujian terhadap 10 unit mesin insinerator tersebut. Pengujian tidak hanya menyasar operasional alat, tetapi juga kualitas udara di sekitar lokasi pembakaran.
“Tim pencemaran juga melakukan pengukuran kualitas udara di sekitar insinerator pada waktu pelaksanaan uji coba. Hasilnya masih masuk ambang batas,” ujarnya.
Menurut Suwarso, insinerator tipe Wisanggeni 9 yang digunakan memiliki sistem berbeda karena tidak menggunakan cerobong asap langsung ke udara. Asap hasil pembakaran akan disedot menggunakan blower dan dialirkan ke bak air untuk mengurangi emisi ke lingkungan.
“Jadi asap sisa pembakaran itu dihisap melalui blower diarahkan ke bak-bak air sehingga tidak menguap ke udara,” jelasnya.
Sementara itu, sisa pembakaran berupa abu disebut akan dimanfaatkan kembali sebagai bahan campuran pembuatan paving block.
DLH Samarinda, kata dia, masih berhati-hati dalam proses pengoperasian karena faktor keselamatan pekerja menjadi perhatian utama. Apalagi suhu pembakaran insinerator bisa mencapai sekitar 800 derajat Celsius.
“Kita ingin menemukan skema bekerja yang baik dan aman. Karena ini lokasi pembakaran dengan suhu tinggi, maka perlu safety yang luar biasa,” ucapnya.
Selain itu, pihaknya juga terus berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup terkait uji kualitas udara dan kelengkapan izin lingkungan di seluruh titik insinerator.
“Kalau izin lingkungan sudah lengkap, tinggal uji kualitas udara semuanya di 9 titik itu,” katanya.
Terkait anggaran operasional, Suwarso memastikan kebutuhan dasar telah disiapkan dalam APBD tahun ini, termasuk untuk tenaga kerja dan pengangkutan sampah ke lokasi insinerator.
“Anggaran pekerja sudah ada. Pengiriman bahan bakar atau sampah yang dipilah di lokasi insinerator juga sudah dianggarkan tahun ini,” ujarnya.
DLH Samarinda menargetkan operasional insinerator bisa berjalan lebih optimal dalam beberapa bulan ke depan. Namun pengoperasian dilakukan bertahap sambil memperbaiki lingkungan sekitar fasilitas, termasuk penanaman pohon di area insinerator.
“Kita sambil perbaikan lingkungannya, terutama penanaman pohon supaya kalau masih ada sedikit asap tidak menyebar ke mana-mana,” kata Suwarso.
Editor : Indra Zakaria