Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

1 dari 4 Anak Alami Fatherless, DPPKB Samarinda Dorong Peran Ayah Lewat Gerakan GAMAS

Redaksi Prokal • Sabtu, 11 Juli 2026 | 10:37 WIB
Kepala DPPKB Samarinda Deasy Evriyani
Kepala DPPKB Samarinda Deasy Evriyani

SAMARINDA- Tingginya angka fatherless atau minimnya keterlibatan figur ayah dalam pengasuhan anak tengah menjadi sorotan serius di Indonesia. Menyikapi fenomena ini, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Samarinda bergerak cepat dengan mendorong penguatan peran ayah melalui program Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS). Berdasarkan data nasional dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN pada tahun 2025, angka fatherless di Indonesia telah menyentuh 25,8 persen, yang berarti setidaknya 1 dari 4 anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran peran ayah yang optimal.

Berdasarkan sebaran data nasional, terdapat ketimpangan wilayah di mana angka fatherless di wilayah perdesaan justru sedikit lebih tinggi, yakni mencapai 26,3 persen, dibandingkan dengan kawasan perkotaan yang berada di angka 25,4 persen. Kepala DPPKB Samarinda, Deasy Evriyani, meluruskan bahwa fatherless tidak hanya merujuk pada anak yang kehilangan ayah karena meninggal dunia. Kondisi ini juga mencakup anak-anak yang memiliki ayah, tetapi sang ayah bekerja jauh, terjadi perceraian, atau ayah hadir secara fisik namun pasif dan abai dalam pengasuhan sehari-hari.

Hingga saat ini, masih banyak masyarakat yang menganggap urusan membesarkan anak adalah tugas mutlak seorang ibu. Padahal, komitmen dan fondasi dari kedua orang tua sangat dibutuhkan dalam membangun karakter anak. Potret kurangnya kehadiran ayah ini sering kali terlihat dari hal-hal kecil di sekolah. Deasy mencontohkan, ada momen di mana seorang ayah datang mengambil rapor tetapi bingung dan salah mengira kelas anaknya sendiri.

Minimnya keterlibatan ayah bukan perkara sepele. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dengan kondisi fatherless jauh lebih rentan menghadapi masalah akademik di sekolah, gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan, krisis kepercayaan diri, hingga risiko tinggi terjerumus ke dalam perilaku menyimpang. Dampak jangka panjangnya, masalah ini dapat mengancam kualitas generasi muda di masa bonus demografi serta menghambat visi Indonesia Emas 2045.

Sebagai langkah konkret, DPPKB Samarinda mengimplementasikan program GAMAS serta Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR). Kedua gerakan ini merupakan bagian dari program prioritas nasional, yaitu Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Deasy Evriyani menjelaskan bahwa perjalanan mengantar anak ke sekolah bisa menjadi ruang komunikasi yang selama ini hilang karena kesibukan orang tua.

Program GAMAS ini nantinya akan dilaksanakan bertepatan dengan hari pertama masuk sekolah. Pihak DPPKB juga mengimbau institusi atau perusahaan agar memberikan sedikit kelonggaran waktu bagi para pekerja pria agar bisa mendampingi buah hati mereka di momen penting tersebut sebelum mulai bekerja. Namun, jika ayah benar-benar berhalangan, peran ini tetap bisa didelegasikan kepada ibu, wali, atau anggota keluarga terdekat lainnya. (*)

Editor : Indra Zakaria
#fatherless