SAMARINDA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda kini meningkatkan kesiapsiagaan secara drastis untuk menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah ini diambil seiring dengan masuknya wilayah Samarinda ke dalam puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung sepanjang Juli hingga Agustus 2026. Seluruh personel beserta jaringan penanggulangan bencana telah disiagakan penuh di lapangan, sementara masyarakat diimbau keras untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran secara terbuka.
Perubahan cuaca dari musim hujan menuju kemarau sebenarnya mulai terasa sejak akhir Juni lalu, ditandai dengan curah hujan yang terus menurun secara signifikan sehingga memicu peningkatan potensi kebakaran lahan. Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso, menjelaskan bahwa selain puncak kemarau, pihaknya juga menerima informasi mengenai potensi dampak fenomena El Nino yang dapat memperparah risiko kebakaran, termasuk ancaman di kawasan tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah. Ketakutan ini bukan tanpa alasan, mengingat data BPBD mencatat telah terjadi 22 kasus kebakaran lahan sejak Januari hingga Juli 2026 dengan total luas area yang hangus mencapai sekitar 11 ribu meter persegi.
Peristiwa kebakaran tersebut tersebar di sejumlah titik strategis, seperti Kecamatan Sungai Pinang, Sambutan, Palaran, dan Sungai Kunjang. Berdasarkan hasil asesmen tim di lapangan, sebagian besar kejadian tersebut dipicu oleh kelalaian dan aktivitas manusia sendiri, mulai dari pembukaan lahan dengan cara dibakar, pembakaran sampah yang merembet ke semak belukar, hingga dugaan adanya unsur kesengajaan. Salah satu insiden terbesar melanda kawasan Perumahan Artas di Jalan Damanhuri, Kelurahan Mugirejo, Kecamatan Sungai Pinang, yang menghanguskan lahan seluas 2.000 meter persegi dan sempat mengancam permukiman warga. Kasus serupa juga terjadi berturut-turut di Jalan Sukses Kelurahan Sambutan serta Jalan Parikesit Kelurahan Rawa Makmur akibat pembakaran sampah yang lepas kendali.
Guna meminimalisasi dampak, BPBD telah memetakan wilayah dengan tingkat kerawanan karhutla tertinggi, yakni Kecamatan Sambutan, Sungai Kunjang, dan Palaran. Sebagai strategi penanganan, pemerintah daerah kini mengoptimalkan peran Kelurahan Tangguh Bencana sebagai garda terdepan untuk melakukan penanganan awal. Koordinasi lintas instansi juga terus diperkuat bersama Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) serta Manggala Agni agar setiap laporan titik koordinat kebakaran yang diterima dari masyarakat dapat segera ditindaklanjuti secara cepat dan terpadu.
Di samping kesiapan taktis personel, BPBD Samarinda terus mengintensifkan edukasi dan tidak bosan-bosan mengingatkan warga agar menghentikan kebiasaan membakar sampah di lahan kosong maupun tempat pembuangan sementara. Suwarso meminta masyarakat untuk memetik pelajaran berharga dari peristiwa tragis di Kecamatan Sambutan terdahulu, di mana seorang warga dilaporkan meninggal dunia akibat terjebak kepulan asap saat sedang membakar lahan. Melalui pengetatan antisipasi ini, masyarakat diharapkan bisa menjadi mitra yang aktif melaporkan kemunculan titik api sekecil apa pun sejak dini sebelum meluas dan mengancam fasilitas umum maupun kawasan permukiman. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co