Suasana Sabtu (8/8/2026) malam di sejumlah ruas jalan utama Kota Samarinda mendadak riuh. Ratusan kendaraan tampak beriringan dan memadati jalanan dalam aksi konvoi keliling kota yang digelar oleh Forum Pemuda Anti LGBT Samarinda.
Aksi turun ke jalan ini menjadi panggung bagi mereka untuk menyerukan penolakan keras terhadap keberadaan dan penyebaran LGBT di Kota Tepian. Pergerakan massa bermula dari kawasan Islamic Center, lalu merayap melintasi Jalan Muara, RE Martadinata, Gajah Mada, Kinibalu, Jenderal Sudirman, hingga Awang Long.
Tak berhenti di situ, rombongan melanjutkan konvoi menuju Taman Samarendah, memutar kembali ke Jalan Awang Long dan Gajah Mada, hingga sempat berhenti di kawasan Teras Samarinda. Perjalanan aksi ini akhirnya bermuara dan ditutup di kawasan Citra Niaga. Ketua Forum Pemuda Anti LGBT Samarinda, Ahmad Yani, menegaskan bahwa aksi keliling kota ini merupakan bentuk kampanye terbuka serta sosialisasi langsung kepada warga Samarinda.
“Alhamdulillah malam ini kita sudah selesai melaksanakan konvoi keliling Kota Samarinda. Tujuannya untuk kampanye menolak LGBT di Kota Samarinda,” ungkap Ahmad Yani di tengah penutupan aksi. Ahmad menceritakan, gerakan jalanan ini merupakan buah dari diskusi internal yang sempat mereka selenggarakan sekitar dua pekan sebelumnya. Usai pematangan konsep, forum sepakat untuk membawa aspirasi mereka langsung ke ruang publik agar gaungnya lebih terdengar.
Kendati demikian, ia menyebut aksi malam itu barulah langkah awal yang berfokus pada tataran sosialisasi. Ke depan, pihak forum berencana membangun koordinasi dengan sejumlah instansi pemerintah, termasuk Dinas Kesehatan.
“Untuk malam hari ini hanya sosialisasi. Nanti setelah itu kita akan koordinasikan kembali dengan Dinas Kesehatan,” jelasnya.
Ahmad juga mengklaim aksi konvoi tersebut mendapat respons hangat serta dukungan dari sebagian warga yang mereka temui di sepanjang rute perjalanan. Pemilihan Citra Niaga sebagai titik pemungkas konvoi bukan tanpa alasan. Kawasan legendaris yang kini kembali bersolek tersebut dinilai sebagai episentrum berkumpulnya generasi muda Samarinda, sehingga dianggap rawan menjadi celah penyebaran paham atau perilaku LGBT.
“Karena melihat ini sebagai salah satu titik sentral Kota Samarinda, banyak anak-anak muda yang berkumpul di sini dan kami melihat mereka rentan terpapar LGBT,” tegas Ahmad membeberkan alasannya.
Usai merampungkan aksi di Citra Niaga, Forum Pemuda Anti LGBT Samarinda menyatakan bakal kembali menggelar konsolidasi internal. Langkah dan bentuk gerakan selanjutnya akan ditentukan setelah mereka mengantongi hasil koordinasi bersama instansi-instansi terkait. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co