PROKAL.CO- Kematian mengenaskan seekor penyu hijau (Chelonia mydas) yang diduga dibunuh saat sedang bertelur di Kampung Balikukup, Kecamatan Batu Putih, Berau pada 3 Agustus 2026, memicu perhatian serius para penggiat lingkungan. Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) menegaskan bahwa kunci utama pencegahan kejahatan terhadap satwa dilindungi tersebut terletak pada keterlibatan dan kesejahteraan masyarakat lokal.
Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman, menilai bahwa pengetatan pengawasan di kawasan konservasi tidak akan berjalan optimal tanpa diiringi peningkatan taraf hidup warga yang tinggal di sekitar habitat penyu. Menurutnya, tragedi di Balikukup harus menjadi titik balik untuk menghadirkan tata kelola perlindungan yang terpadu dan inklusif.
“Pengelolaan kawasan konservasi yang efektif perlu diiringi dengan penguatan kapasitas pengelola dan masyarakat, pemantauan habitat berbasis ilmu pengetahuan, penjangkauan masyarakat, serta kolaborasi lintas sektor,” ujar Ilman.
Ilman menekankan bahwa skema konservasi modern tidak boleh mengisolasi warga setempat dari lingkungan mereka. Sebaliknya, program perlindungan lingkungan harus mampu menciptakan dampak ekonomi nyata melalui pemanfaatan sumber daya alam yang bijak dan berkelanjutan, sehingga masyarakat merasa memiliki dan berkepentingan menjaga keberadaan penyu hijau.
“Upaya konservasi juga harus mampu menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. YKAN pun terus mendukung pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan upaya tersebut,” tegasnya.
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co