Samarinda Tanggap Darurat Kekeringan, Status Berlaku hingga 7 September

Muhamad Yamin • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 07:30 WIB
Andi Harun
Andi Harun

PROKAL.CO, SAMARINDA – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda telah menetapkan status tanggap darurat kekeringan selama 14 hari. Kebijakan tersebut berlaku mulai 25 Agustus hingga 7 September 2026 sebagai langkah menghadapi dampak kemarau panjang yang mulai mengganggu ketersediaan air bersih dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Penetapan status tersebut tertuang dalam Keputusan Wali Kota Samarinda Nomor 300.2/242/HK-KS/VIII/2026. “Kita di Kota Samarinda telah menetapkan situasi darurat kekeringan dengan 14 hari. Nanti 14 hari ke depan kita akan evaluasi lagi,” kata Wali Kota Samarinda Andi Harun diwawancarai Sabtu (29/8/2026).

Menurutnya, Pemkot Samarinda memiliki empat level kondisi, yakni normal, waspada, siaga, dan kritis. Saat ini Samarinda telah melewati kondisi normal dan memasuki fase siaga.  "Sekarang berada di fase transisi antara waspada dan siaga. Bahkan sudah memasuki fase siaga,” ujarnya.

Orang nomor satu di Kota Tepian itu memaparkan, salah satu persoalan yang menjadi perhatian utama Pemkot Samarinda adalah ketersediaan air bersih. Terutama berdampak pada sejumlah intake pengolahan air di wilayah Palaran dan sekitarnya, termasuk Pulau Atas, Bukuan, dan Bantuas.

Naiknya kadar klorida di Sungai Mahakam menjadi salah satu alasan operasional intake harus dihentikan sementara. Kondisi tersebut cenderung terjadi ketika Sungai Mahakam mengalami pasang, terutama di wilayah perbatasan Anggana, Kutai Kartanegara (Kukar), dengan Palaran, Samarinda.

Di Bantuas, kadar klorida bahkan sempat melewati ambang batas 250 PPM. Ketika kadar tersebut kembali berada di atas ambang batas, intake terpaksa dihentikan sementara demi menjaga kualitas air bersih. “Ketika sudah melewati batas 250 PPM kita harus stop. Karena ini menyangkut tentang kesehatan air bersih kita,” jelas Andi.

Meski demikian, penghentian operasional intake tidak berlangsung selama 24 jam. Kadar klorida biasanya kembali menurun ketika kondisi air Sungai Mahakam mulai surut, terutama pada sore hari. Kondisi tersebut membuat Pemkot Samarinda terus memantau perkembangan situasi. Andi Harun menyebut perubahan kondisi dapat terjadi dalam waktu singkat.  “Perkembangannya sangat cepat. Bisa jadi satu hari, bisa jadi dua hari,” katanya. (adv/diskominfo/i)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
samarinda